Ilmu Pengetahuan Dan Filsafat Archive

Banyak pengertian filsafat atau definisi-definisi tentang filsafat yang telah dikemukakan oleh para filsuf. Melalui Blog Jaringan Komputer dan ilmu Pengetahuan ini, saya mencoba mengumpulkan beberapa pengertian filsafat dari beberapa tokoh dan beberapa pengertian dari cabang-cabang filsafat. Selamat membaca.

Pengertian Filsafat

Pengertian Filsafat adalah pengetahuan metodis, sistematis dan koheren tentang seluruh kenyataan (realitas). Filsafat merupakan refleksi rasional (fikir) atas keseluruhan realitas untuk mencapai hakikat (=kebenaran) dan memperoleh hikmat (=kebijaksanaan).

Dalam bahasa Inggris philosophy yang berarti filsafat berasal dari kata Yunani “philosophia” yang lazim diterjemahkan sebagai cinta kearifan. Akar katanya ialah philos (philia, cinta) dan sophia (kearifan). Menurut pengertiannya yang semula dari zaman Yunani Kuno itu filsafat berarti cinta kearifan. Namun, cakupan pengertian sophia yang semula itu ternyata luas sekali. Dahulu sophia tidak hanya berarti kearifan saja, melainkan meliputi pula kebenaran pertama, pengetahuan luas, kebajikan intelektual, pertimbangan sehat sampai kepandaian pengrajin dan bahkan kecerdikkan dalam memutuskan soal-soal praktis (The Liang Gie, 1999).

Banyak pengertian filsafat atau definisi-definisi tentang filsafat yang telah dikemukakan oleh para filsuf. Menurut Merriam-Webster (dalam Soeparmo, 1984), secara harafiah Pengertian  filsafat berarti cinta kebijaksanaan. Maksud sebenarnya  adalah pengetahuan tentang kenyataan-kenyataan yang paling umum dan kaidah-kaidah realitas serta hakekat manusia dalam segala aspek perilakunya seperti: logika, etika, estetika dan teori pengetahuan.

Beberapa tokoh-tokoh filsafat menjelaskan pengertian filsafat adalah sebagai berikut:

  • pengertian filsafat

    Socrates

    Socrates : Menurut Socrates Pengertian Filsafat adalah suatu bentuk peninjauan diri yang bersifat reflektif atau berupa perenungan terhadap azas-azas dari kehidupan yang adil dan bahgia. Berdasarkan pemikiran tersebut dapat dikembangkan bahwa manusia akan menemukan kebahagiaan dan keadilan jika mereka mampu  dan mau melakukan peninajauan diri atau refleksi diri sehingga muncul koreksi terhadap diri secara obyektif

  • pengertian filsafat

    pengertian filsafat

    Plato (472 – 347 s. M.) : Pengertian Filsafat dari Plato, dalam karya tulisnya “Republik” Plato menegaskan bahwa para filsuf adalah pencinta pandangan tentang kebenaran (vision of truth). Dalam pencarian dan menangkap pengetahuan mengenai  ide yang abadi dan tak berubah. Dalam konsepsi Plato filsafat merupakan pencarian yang bersifat spekulatif atau perekaan terhadap pandangan  tentang seluruh kebenaran. Filsafat Plato ini kemudan digolongkan sebagai filsafat spekulatif.

Jika menurut tradisi filsafat dari zaman Yunani Kuno, orang yang pertama memakai istilah philosophia dan philosophos ialah Pytagoras (592-497 S.M.), seorang ahli matematika yang  lebih terkenal dengan dalilnya dalam geometri yang menetapkan a2 + b2 = c2. Pytagoras menganggap dirinya “philosophos” (pencinta kearifan). menurutnya kearifan yang sesungguhnya hanyalah dimiliki semata-mata oleh Tuhan. Selanjutnya, orang yang oleh para penulis sejarah filsafat diakui sebagai Bapak Filsafat ialah Thales (640-546 S.M.). Ia merupakan seorang Filsuf yang mendirikan aliran filsafat alam semesta atau kosmos dalam perkataan Yunani. Menurut aliran filsafat kosmos, filsafat adalah suatu penelaahan terhadap alam semesta untuk mengetahui asal mulanya, unsur-unsurnya dan kaidah-kaidahnya (The Liang Gie, 1999).

Al-Kindi (801 – 873 M) :

pengertian filsafat

Al Kindi

Pengertian Filsafat Al-Kindi: “Kegiatan manusia yang bertingkat tertinggi adalah filsafat yang merupakan pengetahuan benar mengenai hakikat segala yang ada sejauh mungkin bagi manusia …  Bagian filsafat yang paling mulia adalah filsafat pertama, yaitu pengetahuan kebenaran pertama yang merupakan sebab dari segala kebenaran”.

Obyek material dan obyek formal

Setelah dibahas pengertian filsafat diatas selanjutnya dibahas obyek material dan obyek formal.  Obyek material adalah apa yang dipelajari dan dikupas sebagai bahan (materi) pembicaraan, yaitu gejala “manusia di dunia yang mengembara menuju akhirat”.  Dalam gejala ini jelas ada tiga hal menonjol, yaitu manusia, dunia, dan akhirat.  Maka ada filsafat tentang manusia (antropologi), filsafat tentang alam (kosmologi), dan filsafat tentang akhirat (teologi – filsafat ketuhanan; kata “akhirat” dalam konteks hidup beriman dapat dengan mudah diganti dengan kata Tuhan).  Antropologi, kosmologi dan teologi, sekalipun kelihatan terpisah, saling berkaitan juga, sebab pembicaraan tentang yang satu pastilah tidak dapat dilepaskan dari yang lain.  Juga pembicaraan filsafat tentang akhirat atau Tuhan hanya sejauh yang dikenal manusia dalam dunianya.

Obyek formal adalah cara pendekatan yang dipakai atas obyek material, yang sedemikian khas sehingga mencirikan atau mengkhususkan bidang kegiatan yang bersangkutan. Jika cara pendekatan itu logis, konsisten dan efisien, maka dihasilkanlah sistem filsafat.

Filsafat berangkat dari pengalaman konkret manusia dalam dunianya.  Pengalaman manusia yang sungguh kaya dengan segala sesuatu yang tersirat ingin dinyatakan secara tersurat. Dalam proses itu intuisi (merupakan hal yang ada dalam setiap pengalaman) menjadi basis bagi proses abstraksi, sehingga yang tersirat dapat diungkapkan menjadi tersurat.

Dalam filsafat, ada filsafat pengetahuan. “Segala manusia ingin mengetahui”, itu kalimat pertama Aristoteles dalam Metaphysica. Obyek materialnya adalah gejala “manusia tahu”.  Tugas filsafat ini adalah menyoroti gejala itu berdasarkan sebab-musabab pertamanya. Filsafat menggali “kebenaran” (versus “kepalsuan”), “kepastian” (versus “ketidakpastian”), “obyektivitas” (versus “subyektivitas”), “abstraksi”, “intuisi”, dari mana asal pengetahuan dan kemana arah pengetahuan.   Pada gilirannya gejala ilmu-ilmu pengetahuan menjadi obyek material juga, dan kegiatan berfikir itu (sejauh dilakukan menurut sebab-musabab pertama) menghasilkan filsafat ilmu pengetahuan.  Kekhususan gejala ilmu pengetahuan terhadap gejala pengetahuan dicermati dengan teliti.  Kekhususan itu terletak dalam cara kerja atau metode yang terdapat dalam ilmu-ilmu pengetahuan.

Pengertian Filsafat dari Cabang-cabang filsafat

Terdapat kecenderungan bahwa bidang-bidang filsafat itu semakin bertambah, sekaipun bidang-bidang telaah yang dimaksud belum memiliki kerangka analisis yang lengkap, sehingga belum dalam disebut sebagai cabang.Dalam demikian bidang-bidang demikian lebih tepat disebut sebagai masalah-masalah filsafat.

Pengertian Filsafat Ilmu

Pengertian Filsafat adalah pemikiran, sedangkan ilmu adalah ‘kebenaran’. Gampangnya, filsafat ilmu adalah pemikiran tentang kebenaran. selengkapnya [...]

Pengertian Filsafat Pendidikan

Pengertian Filsafat pendidikan …  merupakan cabang yeng dapat di bedakan dibedakan namun  tidak terpisah baik dari filsafat maupun juga pendidikan, karena di ilhami dari filsafat, tetapi di khususkan pada  pendidikan, dan metodenyapun dari filsafat. Berfilsafat tentang pendidikan menuntut suatu pemahaman, Pengertian Filsafat Pendidikan, baca selengkapnya[...]

Pengertian Filsafat Hukum

Pengertian filsafat hukum ialah ilmu yang mempelajari hukum secara filosofis.  Oleh karena obyek filsafat hukum adalah hukum. Definisi tentang hukum itu sendiri itu, Pengertian Filsafat Hukum, selengkapnya[...]

Pengertian Filsafat Agama

Filsafat agama pada dasarnya studi metafisik yang dilakukan untuk memahami konsep Ketuhanan. Hal ini termasuk mempelajari dan menganalisa berbagai argumen bahwa orang telah menawarkan suatu kepercayaan untuk membenarkan dan percaya kepada Tuhan baca selengkapnya [...]

***Untuk membaca artikel Pengertian Filsafat dari Cabang-cabang filsafat klik link yang sudah disiapkan diatas***

Be the first to comment

Filsafat hukum  mencakup penyelerasian nilai-nilai. Hukum di tengah pergaulan masyarakat tidak terlepas dari perenungan dan perumusan nilai-nilai yang sifatnya mendasar dari hukum itu sendiri. Upaya ini dilakukan dengan memberikan jawaban terhadap berbagai pertanyaan seperti apakah hukum itu sebenarnya.  oleh masyarakat sebagai subyek hukum. Melalui Blog jaringan Komputer dan Ilmu Pengetahuan ini mari Kita bahas Hakikat Hukum itu. 

Pengertian Filsafat Hukum – Definisi Filsafat Hukum

Apakah sebabnya kita menaati hukum, apakah keadilan menjadi ukuran untuk baik atau buruknya hukum itu. Inilah yang menjadi tugas dari filsafat hukum untuk menjawab semua pertanyaan tersebut, sehingga substansi dari hukum itu benar-benar ditaati dan dipatuhi.

filsafat hukum ialah ilmu yang mempelajari hukum secara filosofis. Oleh karena obyek filsafat hukum adalah hukum. Definisi tentang hukum itu sendiri itu amat luas oleh Purnadi Purbacaraka dan Soerjono Soekanto (1986:2-4) keluasan arti hukum tersebut disebutkan dengan meyebutkan sembilan arti hukum. Dengan demikian jika kita ingin mendefinisikan hukum secara memuaskan, kita harus dapat merumuskan suatu kalimat yang meliputi paling tidak sembilan arti hukum itu.

Hukum  juga dipandang sebagai norma yang mengandung nilai-nilai tertentu. Jika kita batasi hukum dalam pengertian sebagai norma-norma adalah pedoman manusia dalam bertingkah laku. Norma hukum diperlukan untuk melengkapi norma lain yang sudah ada sebab perlindungan yang diberikan norma hukum dikatakan lebih memuaskan dibandingkan dengan norma-norma yang lain karena pelaksanaan norma hukum tersebut dapat dipaksakan.

Filsafat hukum juga mencakup penyelerasian nilai-nilai misalnya penyelerasian antara ketertiban dengan ketentraman, antara kebendaan dengan keakhlakan, serta antara kelanggengan dengan pembaruan

Pengertian filsafat hukum secara sederhana adalah cabang filsafat, yaitu filsafat tingkah laku atau etika, yang mernpelajari hakikat hukum. Dengan kata lain, filsafat hukum adalah ilmu yang mempel ajari hukum secara filosofis Jadi objek filsafat hukum adalah hukum, dan objek tersebut dikaji seea ra mendalam sampai kepada inti atau dasarnya, yang disebut hakikat.

Pertanyaan tentang “apa (hakikat) hukum itu?” sekaligus merupakan pertanyaan filsafat hukum juga. Pertanyaan tersebut mungkin saja dapat dijawab oleh ilmu hukum, tetapi jawaban yang diberikan tenyata serba tidak memuaskan. Menurut Apeldoorn (1985) hal tersebut tidak lain karena hukum hanya memberikan jawaban yang sepihak. dapat diamati oleh panca indera manusia mengenai perbuatan-perbuatan manusia dan kebiasaan-kebiasaan masyarakat. Sementara itu, pertimbangan nilai di balik gejala-gej ala hukum tersebut luput dari pengamatan ilmu hukum. Norma (kaidah) hukum tidak termasuk dunia kenyataan (sein), tetapi berada pada dunia lain (sollen dan mogeni, sehingga norma hukum bukan dunia penyelidikan ilmu hukum.

Mengingat objek filsafat hukum adalah hukum, maka masalah atau pertanyaan yang dibahas oleh filsafat hukum itupun antara lain berkisar pada apa-apa yang diuraikan diatas, seperti hubungan hukum dan kekuasaan, hubungan hukum kodrat dan hukum positif, apa sebab orang menaati hukum, apa tujuan hukum, sampai kepada masalah-masalah filsafat hukum yang ramai dibicarakan saat ini (oleh sebagian orang disebut masa lah filsafat hukum kontemporer, suatu istilah yang kurang tepat, mengingat sejak dulu masalah tersebut juga telah diperbincangkan) seperti masalah hak asasi manusia dan etika profesi hukum. Tentu saja tidak semua masalah atau pertanyaan itu akan dijawab dalam perk uliahan filsafat hukum.

Dalam Sejarah filsafat hukum disebutkan bahwa pada jaman dulu, filsafat hukum hanyalah produk sampingan di antara sekian banyak objek penyelidikan para filsuf. Pada masa sekarang, filsafat hukum sudah menjadi produk utama yang dibahas sendiri oleh para ahli hukum.

Sebagai catatan tambahan, dalam banyak tulisan filsafat hukum sering diidentikkan dengan jurisprudence yang diaj arkan terutama difakultas-fakultas hukum di Amerika Serikat. Istilah jurisprudence (bahasa Inggris) atau jurisprudenz (bahasa Jerman) sudah digunakan dalam Codex Iuris Civilis di zaman Romawi. Istilah ini dipopulerkan terutama oleh penganut aliran positivisme hukum.

Pengertian Filsafat Hukum Menurut Para Ahli

Filsafat Hukum Menurut Gustaff Radbruch adalah cabang filsafat yang mempelajari hukum yang benar. Sedangkan menurut Langmeyer: Filsafat Hukum adalah pembahasan secara filosofis tentang hukum, Anthoni D’Amato mengistilahkan dengan Jurisprudence atau filsafat hukum yang acapkali dikonotasikan sebagai penelitian mendasar dan pengertian hukum secara abstrak, Kemudian Bruce D. Fischer mendefinisikan Jurisprudence adalah suatu studi tentang filsafat hukum. Kata ini berasal dari bahasa Latin yang berarti kebijaksanaan (prudence) berkenaan dengan hukum (juris) sehingga secara tata bahasa berarti studi tentang filsafat hukum.
Secara sederhana, dapat dikatakan bahwa Filsafat hukum merupakan cabang filsafat, yakni filsafat tingkah laku atau etika, yang mempelajari hakikat hukum. Dengan perkataan lain filsafat hukum adalah ilmu yang mempelajari hukum secara filosofis, jadi objek filsafat hukum adalah hukum, dan objek tersebut dikaji secara mendalam sampai pada inti atau dasarnya, yang disebut dengan hakikat.
Purnadi Purbacaraka & Soerjono Soekanto menyebutkan sembilan arti hukum, yaitu :

  1. Ilmu pengetahuan, yaitu pengetahuan yang tersusun secara sistematis atas dasar kekuatan pemikiran.
  2. Disiplin, yaitu suatu sistem ajaran tentang kenyataan atau gejala-gejala yang dihadapi.
  3. Norma, yaitu pedoman atau patokan sikap tindak atau perilaku yang pantas atau diharapkan.
  4. Tata Hukum, yaitu struktur dan proses perangkat norma-norma hukum yang berlaku pada suatu waktu dan tempat tertentu serta berbentuk tertulis.
  5. Petugas, yakni pribadi-pribadi yang merupakan kalangan yang berhubungan erat dengan penegakan hukum (law enforcement officer)
  6. Keputusan Penguasa, yakni hasil proses diskresi
  7. Proses Pemerintahan, yaitu proses hubungan timbal balik antara unsur-unsur pokok dari sistem kenegaraan
  8. Sikap tindak ajeg atau perilaku yang teratur, yakni perilaku yang diulang-ulang dengan cara yang sama, yang bertujuan mencapai kedamaian

Selanjutnya Prof. Dr. H. Muchsin, SH. dikutip dari bukunya bukunya Ikhtisar Filsafat Hukum menjelaskan dengan cara membagi definisi filsafat dengan hukum secara tersendiri, filsafat diartikan sebagai upaya berpikir secara sungguh-sungguh untuk memahami segala sesuatu dan makna terdalam dari sesuatu itu14 kemudian hukum disimpulkan sebagai aturan, baik tertulis maupun tidak tertulis yang mengatur tingkah laku manusia dalam masyarakat, berupa perintah dan larangan yang keberadaanya ditegakkan dengan sanksi yang tegas dan nyata dari pihak yang berwenang di sebuah negara.

Tokoh-Tokoh Sejarah Dalam Aliran Filsafat Hukum Modern

Sejarah Filsafat Hukum modern dimaksud disini adalah sejarah yang dimulai Abad ke-19, pada zaan sekarang Rasionalosme, pada zaman sekarang Rasionalisme itu dilengkapi dengan Empirisme. Pemikiran Empirisme sendiri sebenarnya telah dirintis sejak zaman moderen, seperti oleh Hobbes, tetapi pemikiran ini baru mengalami perkembangan yang pesat pada Abad ke-19. dengan berkembangnya Empirisme, faktor sejarah juga mendapat perhatian yang utama, temasuk dalam lapangan Hukum. Perhatian yang besar terhadap faktor sejarah antara lain diberikan oleh Hegel (1770-1831) dan Karl Marx (1818-1883). Hal yang sama terjadi di Jerman dengan munculnya Mahzab Sejarah dari Von Savigny.

  1. tokoh filsafat hukum hegel

    Hegel

    Hegel (1770-1831), Filsafat Hegel hendak menemukan kembali yang mutlak pada yang Nisbi. Yang mulak adalah kesadaran, namun kesadaran menjelma dalam alam, dengan maksud agar secara demikian menyadari dirinya sendiri. Pada hakekatnya kesadaran adalah Idea, artinya pemikiran. Didalam sejarah umat manusia pada suatu masa pemikiran ini menjadi peserta dalam Idea mutlak, yaitu kelihaian. Pada hakekatnya Idea berpikir pada suatu kegiatan, suatu gerak. Hanya saja gerak ini bukan gerak lurus. Gerak ini senantiasa terjadi dalam bentuk gerak serta perlawanan secara silih berganti. Tetapi secara demikian berdasar tisis dan antitesis timbul suatu gerak baru yang mencakup kedua gerak sebelumnya dalm suatu jenjang yang lebih tinggi sebagai sintesis. Proses ini yang berlangsung menurut hukum-hukum Akal budi, oleh Hegel disebut dialektika. Bagi segala sesuatu berlaku Aksioma : apa saja yang bersifat akali pasti nyata: apa saja yang nyata bersifat akali itulah mau tak mau di pahami gerak kesadaran dan sejalan dengan itu juga gerak alam dan gerak sejarah.

  2. tokoh filsafat hukum karl-marx

    karl-marx

    Karl marx (1818-1883) dan Engels(1820-1883), hukum dipandang oleh mereka sebagai pernyataan hidup bermasyarakat. Empirisme juga mendorong muncuknya Mahzab sejarah. Masuknya faktor sejarah dalam pemikiran hukum ini selanjutnya juga melahirkan pandangan yang relative terhadap hukum seperti yang dikatakan oleh von Savigny, hukum tidak dibuat, tetapi ia tumbuh bersama perkembangan masyarakat. Jadi, tidak mungkin ada hukum yang universal, sama halnya tidak ada bahasa yang universal. Tiap-tiap bangsa (dari suatu negara) berhak menentukan corak hukumnya sendiri, sesuai dengan jiwa dari bangsa (volksgeist) itu.

  3. sejarah filsafat hukum Hans Kelsen

    Hans Kelsen

    Theo Huijbers (1988:106): menyebutkan tiga cabang positivisme dalam kaitannya dengan hukum, yaitu : (1) Positivisme Sosiologis, (2) Positivisme Yridis, dan (3) Ajaran Hukum Umum. Positivisme sosiologis memandang hukum sebagai gejala social semata, sehingga hukum hanya dapat diselidiki melalui ilmu yang baru muncul saat itu, yaitu sosiologis. Positivisme yuridis hendak mempersoalkan arti hukum sebagai gejala tersendiri, menueut metode ilmu hukum positif. Dekat dengan positivisme yuridis adalah suatu disiplin hukum yang diberi nama Ajaran Hukum Umum. Penganut-penganut sistem ini berpendapat bahwa kegiatan teoritis seseorang sarjana hukum terbatas pada uraian arti dan prinsip-prinsip hukum secara Induktif-Empiris. Positivisme seperti disebutkan Huijbers tersebut dalam aliran filsafat hukum dikenal dengan aliran positivisme hukum. Ajaran hukum umum merupakan ajaran yang dikembangkan antara lain oleh Hans Kelsen.

Aspek Nilai Etika Dalam Hukum (Juristia Ethics)

Dari persoalan-persoalan yang ada dalam kehidupan manusia, persoalan tentang moral dapat dikatakan merupakan persoalan pokok, karena moral menyangkut hubungan antar manusia yang mempersoalkan tentang apa yang baik dan apa yang buruk dalam persoalan tersebut. Untuk mengatur hubungan ini tentu diperlukan kaidah-kaidah

tertentu yang bersifat mengikat dan mengarahkan hubungan antar sesama manusia berlangsung dengan baik. Kaidah-kaidah ini adalah aturan-aturan moral yang mengharuskan manusia untuk mengikutinya. Manusia dikatakan mempunyai moral yang baik dan dapat dikatakan manusia susila apabila ia menaati aturan-aturan moral (Asdi, 1998:1I).

Faktor yang penting bagi manusia untuk menjadi manusia susila adalah adanya kesadaran moral yang dapat direalisasikan dalam tingkah aku sehari-hari. Kesadaran moral ini, kesadaran untuk bertingkahlaku baik, tidak hanya kalau berhadapan dengan orang lain saja, tetapi berlaku terus menerus tanpa kehadiran orang lain. Kesadaran ini berdasarkan pada nilai-nilai yang fundamental dan sangat mendalam.

Dengan demikian maka tingkah laku yang baik berdasar pada otoritas kesadaran pribadi dan bukan atas pengaruh dari luar diri manusia. Dasar ini terletak pada kodrat manusia. Drijarkara (1966 : 25). Demikian sekilas gambaran filsafat hukum, semoga ada manfaatnya

Be the first to comment
filsafat agama dan teologi

Author: Zulhikam El Said

Filsafat agama adalah sebuah subjek paling multifaset yang sangat luas dan mendalam. Pada Blog Jaringan Komputer dan Ilmu Pengetahuan ini saya mencoba berbagi beberapa wawasan tentang hubungan filsafat dan agama dan hubungan antara keduanya pada Artikel ini  yang berjudul Filsafat Agama Dan Teologi.

Filsafat Agama dan Teologi Sebagai Kajian Studi

Para Ilmuwan Barat tidak menemukan kata sepakat dalam memberikan definisi agama, masing-masing pandangan merekan mendefinisikan agama dari sudut yang berbeda. Hal inilah yang  menyebabkan pemahaman mereka terhadap agama sangat minim. Dalam Encyclopedia of Philosophy, philosof-philosof terkenal memberikan definisi keduanya, ada yang mengatakan agama itu tidak lebih dari konsep moralitas / akhlak, ada juga yang mengatakan agama itu sesuatu yang menyentuh hal-hal ruhaniyyah atau spiritual saja, ada pula yang mendefinisikan agama dengan ritual atau upacara penyembahan.
Jadi dari sini kita dapat melihat perspektif duni Barat yang sempit mengenai agama. Meskipun penilaian mereka itu berdasarkan realitas sebagian agama yang ada di dunia ini.
Tak mengherankan bila agama menurut pandangannya harus dipisahkan dengan kehidupan nyata, agama tidak bisa mencampuri hal politik, sosial dan ekonomi. Agama hanya berhubungan dengan tempat ritual yang dikunjungi seminggu sekali dan hari-hari raya tertentu.

filsafat agama dan teologi

filsafat agama dan teologi

Padahal kita tahu agama adalah bagian yang amat penting pada kehidupan seseorang. Pada sebagian orang, memandang  agama  adalah kehidupannya yang tidak terpisahkan. Sebagian besar kekayaan budaya  di seluruh dunia ini memiliki akar pada tiap-tiap agama. Dalam istilan sederhana, agama hanyalah cara hidup, filsafat agama adalah tentang belajar hidup. Filsafat agama termasuk studi filosofis mengenai doktrin-doktrin keagamaan, Kitab-Suci keagamaan, cerita agama, keyakinan agama dan praktek, sejarah agama, dan argumen agama, dsb yang menentukan dan mempengaruhi pola hidup.

Studi filosofis dilakukan secara beralasan dan disiplin di mana setiap aspek agama diuji untuk kebenarannya. Filsafat agama adalah  penggunaan akal pada pencarian kebenaran untuk memahami justifikasi  iman kepada Tuhan dan agama.

filsafat Agama dan Filsafat Keagamaan (Teologi)

Filsafat agama pada dasarnya studi metafisik yang dilakukan untuk memahami konsep Ketuhanan. Hal ini termasuk mempelajari dan menganalisa berbagai argumen bahwa orang telah menawarkan suatu kepercayaan untuk membenarkan dan percaya kepada Tuhan. Banyak orang bingung mengenai definisi filsafat agama dengan filsafat keagamaan  atau teologi. Teologi defensif di alam dan berkomitmen untuk mempertahankan keyakinan agama tertentu, memiliki keyakinan pada setiap aspek agama tersebut. Padahal, filsafat agama adalah penyelidikan ilmiah mengenai agama. Sebagai contoh, teologi menganggap Kitab-Suci agama sebagai aturan tertinggi dan berwibawa tetapi dalam filsafat agama, Kitab Suci adalah sebuah obyek studi dan penelitian dan memiliki tujuan utama  untuk mengamati klaim agama dan untuk membangun penjelasan yang rasional, jika ada.

Dibawah ini adalah beberapa pertanyaan yang masuk pada wilayah filasafat agama.

  • Tuhan: mitos atau realitas?
  • Argumen pada gender Tuhan: Tuhan seperti apa?
  • Apakah  Tuhan sama seperti manusia?
  • Siapa yang menciptakan dunia ini?
  • Apakah keyakinan agama masuk akal?
  • Apakah tujuan dari agama-agama dunia?
  • Apakah bahasa agama dan pengalaman agama?
  • Berapakah nilai dari keyakinan agama, iman dan prakteknya?
  • Mengapa memuji Tuhan?
  • Seberapa besar Tuhan?
  • Apakah keJahatan bagian dari Tuhan?
  • Mengapa ada kejahatan?
  • Di mana Tuhan ketika aku menderita?
  • Tuhan dapat mengampuni segala sesuatu?
  • Apakah tuhan ada didalam hati anda?
  • Perspektif tentang filsafat agama

Filsafat agama dapat dipelajari dari perspektif yang berbeda oleh orang yang berbeda. Sebagai contoh, filsafat ateis tentang agama berbeda dari teis filsafat. ateis tidak percaya pada Tuhan, mereka tidak percaya bahwa agama diciptakan oleh Tuhan. Mereka belajar agama sebagai fenomena yang dibuat oleh manusia. Mereka cenderung lebih berfokus pada agama sebagai sistem kepercayaan buatan manusia dan mempelajari etika, prinsip-prinsip, moral, dan identitas agama tertentu dan orang-orang yang mengikutinya. Mereka sering mengabaikan peran agama, agama seperti apa?, dan bagaimana agama masuk akal, dll. Tapi, seorang ateis tidak menghakimi, tidak memihak, dan yang peduli tentang filsafat dan agama dapat saja belajar filsafat agama dengan baik.

Teis cenderung untuk mempelajari agama seperti itu. Pada kenyataannya, perspektif teis pada agama tidak dapat diciptakan sebagai filsafat keagamaan, seperti yang disebutkan sebelumnya, filsafat keagamaan mengagungkan agama tertentu. Menurut teisme, Tuhan ada dan karena itu dunia diciptakan oleh Tuhan dan setiap manusia lahir untuk satu tujuan. Cenderung untuk membatasi kebebasan manusia tetapi pada saat yang sama pula menegaskan nilai-nilai kita. Teis tidak setuju dengan perspektif ateis. karena jika orang telah diciptakan dari debu dan akan kembali ke tanah. Mencoba untuk mengetahui hubungan antara agama dan alasannya adalah Inti dari filsafat agama.

Be the first to comment

filsafat Ilmu terdiri dari 2 kata, filsafat adalah pemikiran, sedangkan ilmu adalah ‘kebenaran’. Gampangnya, filsafat ilmu adalah pemikiran tentang kebenaran. Apakah benar itu benar? Kalau itu benar maka berapa kadar kebenarannya.? Apakah ukuran-ukuran kebenaran itu? Di mana otoritas kebenaran itu? Dan adakah kebenaran itu abadi? Mari kita bahas di Blog Jaringan Komputer dan Ilmu Pengetahuan 

Pengertian Filsafat Ilmu & Filsafat Ilmu Pengetahuan 

filsafat ilmu filsafat

filsafat ilmu – ilmu filsafat Issac Newton (1642-1627) menulis hukum-hukum fisika sebagai Philosophiae

Asal mula filsafat ilmu adalah asumsi bahwa Ilmu atau sains tidak akan terlepas dari filsafat. Tugas filsafat pengetahuan adalah menunjukkan bagaimana “pengetahuan tentang sesuatu sebagaimana adanya”. Will Duran dalam bukunya The story of Philosophy mengibaratkan bahwa filsafat seperti pasukan marinir yang merebut pantai untuk pendaratan pasukan infanteri. Pasukan infanteri inilah sebagai pengetahuan yang di antaranya ilmu, filsafat yang memenangkan tempat berpijak bagi kegiatan keilmuan. Filsafat itu ibarat energi dan ilmu itu umpama mesin listrik. Jika energi dipasok ke turbin mesin, maka mesin akan bekerja menghasilkan setrum yang dipakai untuk menyalakan lampu yang memancarkan cahaya. Pengandaian ini memberi kita gambaran betapa erat keterkaitan antara filsafat dan ilmu hingga dijadikan suatu disiplin filsafat ilmu

Semua ilmu baik ilmu alam maupun ilmu sosial bertolak dari pengembangannya sebagai filsafat. Nama asal fisika adalah filsafat alam (natural philosophy) dan nama asal ekonomi adalah filsafat moral (moral philosophy). Issac Newton (1642-1627) menulis hukum-hukum fisika sebagai Philosophiae Naturalis Principia Mathematica (1686) dan Adam Smith (1723-1790) Bapak Ilmu Ekonomi menulis buku The Wealth Of Nation (1776) dalam fungsinya sebagai Professor of Moral Philosophy di Universitas Glasgow. Agus Comte dalam Scientific Metaphysic, Philosophy, Religion and Science, 1963 membagi tiga tingkat perkembangan ilmu pengetahuanyaitu: religius, metafisic dan positif. Dalam tahap awal asas religilah yang dijadikan postulat ilmiah sehingga ilmu merupakan deduksi atau penjabaran religi.

Tahap berikutnya orang mulai berspekulasi tentang metafisika dan keberadaan wujud yang menjadi obyek penelaahan yang terbebas dari dogma religi dan mengembangkan sistem pengetahuan di atas dasar postulat metafisik. Tahap terakhir adalah tahap pengetahuan ilmiah (ilmu) di mana asas-asas yang digunakan diuji secara positif dalam proses

Terminologi  filsafat ilmu dari kata filsafat berarti segala ilmu pengetahuan yang dimiliki manusia. Kala itu pembagian Filsafat pada  dua bagian yakni, filsafat teoritis dan filsafat praktis. Filsafat teoretis mencakup: (1) ilmu pengetahuan alam, seperti: fisika, biologi, ilmu pertambangan, dan astronomi; (2) ilmu eksakta dan matematika; (3) theologi dan metafisika.

Filsafat praktis mencakup: (1) norma-norma (akhlak); (2)urusan rumah tangga; (3) sosial dan politik. Secara umum filsafat berarti upaya manusia untuk memahami segala sesuatu secara sistematis, radikal, dan kritis. Berarti filsafat merupakan sebuah proses bukan sebuah produk. Maka proses yang dilakukan adalah berpikir kritis yaitu usaha secara aktif, sistematis, dan mengikuti pronsip-prinsip logika untuk mengerti dan mengevaluasi suatu informasi dengan tujuan menentukan apakah informasi itu diterima atau ditolak. Dengan demikian filsafat akan terus berubah hingga satu titik
tertentu (Takwin, 2001).

Pengertian Filsafat Ilmu

Definisi kata filsafat bisa dikatakan merupakan sebuah masalah falsafi pula. Menurut para ahli logika ketika seseorang menanyakan pengertian (defenisi/hakikat) sesuatu, sesungguhnya ia sedang bertanya tentang macam-macam perkara. Tetapi paling tidak bisa dikatakan bahwa “falsafah” itu kira-kira merupakan studi yang didalami tidak dengan melakukan eksperimen-eksperimen dan percobaan-percobaan, tetapi dengan mengutarakan masalah secara persis, mencari solusi untuk ini, memberikan argumentasi dan alasan yang tepat untuk solusi tertentu dan akhirnya dari proses-proses sebelumnya ini dimasukkan ke dalam sebuah dialektika. Dialektika ini secara singkat bisa dikatakan merupakan sebuah bentuk daripada dialog.

“Hakekat ilmu menyangkut masalah keyakinan ontologik, yaitu suatu keyakinan yang harus dipilih oleh sang ilmuwan dalam menjawab pertanyaan tentang apakah “ada” (being, sein, het zijn) itu. Inilah awal-mula sehingga seseorang akan memilih pandangan yang idealistis-spiritualistis, materialistis, agnostisistis dan lain sebagainya, yang implikasinya akan sangat menentukan dalam pemilihan epistemologi, yaitu cara-cara, paradigma yang akan diambil dalam upaya menuju sasaran yang hendak dijangkaunya, serta pemilihan aksiologi yaitu nilai-nilai, ukuran-ukuran mana yang akan dipergunakan dalam seseorang mengembangkan ilmu”. Koento Wibisono (1984),

Untuk lebih memahami filsafat ilmu, mari kita simak hakekat ilmu itu, menurut Poespoprodjo (dalam Koento Wibisono, 1984), dapatlah dipahami bahwa perspektif-perspektif ilmu, kemungkinan-kemungkinan pengembangannya, keterjalinannya antar ilmu, simplifikasi dan artifisialitas ilmu dan lain sebagainya, yang vital bagi penggarapan ilmu itu sendiri. Lebih dari itu, dikatakan bahwa dengan filsafat ilmu, kita akan didorong untuk memahami kekuatan serta keterbatasan metodenya, prasuposisi ilmunya, logika validasinya, struktur pemikiran ilmiah dalam konteks dengan realitas in conreto sedemikian rupa sehingga seorang ilmuwan dapat terhindar dari kecongkakan serta kerabunan intelektualnya

Filsafat Ilmu memiliki syarat dikatakan sebagai ilmu jika memiliki pengetahuan yang metodis, sistematis, dan koheren tentang seluruh kenyataan yang menyeluruh dan universal, dan sebagai petunjuk arah kegiatan manusia dalam seluruh bidang kehidupannya.Penelahaan secara mendalam pada filsafat akan membuat filsafat memiliki tiga sifat yang pokok, yaitu menyeluruh, mendasar, dan spekulatif itu semua berarti bahwa filsafat melihat segala sesuatu persoalan dianalisis secara mendasar sampai keakar-akarnya.Ciri lain yang penting untuk ditambahkan adalah sifat refleksif krisis dari filsafat.

filsafat dan ilmu yakni sama-sama mencari kebenaran. Hanya saja filsafat tidak berhenti pada satu garis kebenaran, tetapi ingin terus mencari kebenaran kedua, ketiga dan seterusnya sampai habis energinya. Sedangkan ilmu kadang sudah merasa cukup puas dengan satu kebenaran dan bila ilmu itu disuntik dengan filsafat alias pemikiran maka ia kan bergerak maju untuk mencari kebenaran yang lain lagi.

Filsafat dan ilmu bahu-membahu mengusung kebenaran, namun kebenaran filsafat dan kebenaran ilmu masih tetap saja bersifat relatif sebagai proses yang tidak pernah selesai. Maksudnya, bahwa  kebenaran yang didapatkan oleh filsafat dan  ilmu tak  pernah  selesai  dan   terus berproses dan menjadi, yang dalam hukum dialektika (Thesis,  Antithesis,  Sinthesis) dan seterusnya sebagai tanda bahwa manusia, pemikirannya dan ciptaannya bersifat relatif. Sedangkan kebenaran itu sendiri identik dengan Pencipta kebenaran.

Pengertian filsafat ilmu, telah banyak dijumpai dalam berbagai literatur. Filsafat ilmu menurut The Liang Gie (1999), filsafat ilmu adalah segenap pemikiran reflektif terhadap persoalan-persoalan mengenai segala hal yang menyangkut landasan ilmu maupun hubungan ilmu dengan segala segi dari kehidupan manusia. Filsafat ilmu merupakan suatu bidang pengetahuan campuran yang eksistensi dan pemekarannya bergantung pada hubungan timbal-balik  dan saling-pengaruh antara filsafat dan ilmu.

Filsafat ilmu adalah bagian dari filsafat pengetahuan atau sering juga disebut epistimologi. Epistimologi berasal dari bahasa Yunani yakni episcmc yang berarti knowledge, pengetahuan dan logos yang berarti  teori. Istilah ini pertama kali dipopulerkan oleh J.F. Ferier tahun 1854 yang membuat dua cabang filsafat yakni epistemology dan ontology (on =being, wujud, apa + logos = teori ), ontology ( teori tentang apa).

Filsafat ilmu secara sederhana dapat dikatakan bahwa, filsafat ilmu adalah dasar yang menjiwai dinamika proses kegiatan memperoleh pengetahuan secara ilmiah. Ini berarti bahwa terdapat pengetahuan yang ilmiah dan tak-ilmiah. Adapun yang tergolong ilmiah ialah yang disebut ilmu pengetahuan atau singkatnya ilmu saja, yaitu akumulasi pengetahuan yang telah disistematisasi dan diorganisasi sedemikian rupa; sehingga memenuhi asas pengaturan secara prosedural, metologis, teknis, dan normatif akademis. Dengan demikian teruji kebenaran ilmiahnyasehingga memenuhi kesahihan atau validitas ilmu, atau secara ilmiah dapat dipertanggungjawabkan.
Sedang pengetahuan non ilmiah adalah yang masih tergolong prailmiah. Hal ini bisa saja diperoleh secara dari hasil serapan inderawi, baik yang telah lama maupun baru didapat. Disamping itu termasuk yang diperoleh secara pasif atau di luar kesadaran seperti ilham, intuisi, wangsit, atau wahyu (oleh nabi).

filsafat ilmu merupakan penerusan pengembangan filsafat pengetahuan. Objek dari filsafat ilmu adalah ilmu pengetahuan. Oleh karena itu setiap saat ilmu itu berubah mengikuti perkembangan zaman dan keadaan tanpa meninggalkan pengetahuan lama. Pengetahuan lama tersebut akan menjadi pijakan untuk mencari pengetahuan baru. Hal ini senada dengan ungkapan dari Archie J.Bahm (1980)  bahwa ilmu pengetahuan (sebagai teori) adalah sesuatu yang selalu berubah.

Dalam perkembangannya filsafat ilmu mengarahkan pandangannya pada strategi pengembangan ilmu yang menyangkut etik dan heuristik. Bahkan sampai pada dimensi kebudayaan untuk menangkap tidak saja kegunaan atau kemanfaatan ilmu, tetapi juga arti maknanya bagi kehidupan manusia (Koento Wibisono dkk., 1997).

Oleh karena itu, pada filsafat ilmu diperlukan perenungan kembali secara mendasar tentang hakekat dari ilmu pengetahuan itu bahkan hingga implikasinya ke bidang-bidang kajian lain seperti ilmu-ilmu kealaman. Dengan demikian setiap perenungan yang mendasar, mau tidak mau mengantarkan kita untuk masuk ke dalam kawasan filsafat.

“filsafat dari sesuatu segi dapat didefinisikan sebagai ilmu yang berusaha untuk memahami hakekat dari sesuatu “ada” yang dijadikan objek sasarannya, sehingga filsafat ilmu pengetahuan yang merupakan salah satu cabang  filsafat dengan sendirinya merupakan ilmu yang berusaha untuk memahami apakah hakekat ilmu pengetahuan itu sendiri”. Kutipan Koento Wibisono (1984) menyimpulkan pengertian filsafat ilmu.

 

Be the first to comment

Mengajar adalah profesi mulia. Dengan pengetahuan filsafat pendidikan seorang guru menyampaikan pengetahuannya  dan membentuk muridnya untuk menjadi orang dewasa  dan profesional yang bertanggung jawab terhadap apa  yang diyakini. Bagaimana Konsep Dasar Filsafa Pendidikan itu?. Mari kita bahas di Blog Jaringan Komputer dan Ilmu pengetahuan ini.

Konsep Dasar Filsafat Dan Pendidikan & Pengertian Filsafat Pendidikan

Seluruh masyarakat dari dulu hingga sekarang, mempunyai kepentingan dalam bidang pendidikan.  beberapa pakar telah mengklaim bahwa pengajar (yang beraktifitas sebagai pendidik) adalah profesi tertua kedua. Meskipun tidak semua masyarakat  memberikan dukungan terhadap pendidikan dan lembaga pendidikan. Namun setidaknya mereka mengakui alasan sentral bahwa tidak semua anak terlahir dengan buta hurup dan tidak mengerti norma-norma dan budaya masyarakat atau masyarakat dimana ia tumbuh kembang. Tetapai dengan bantuan seorang guru profesional atau guru amatir yang berdidikasi dapat membantu mereka  untuk dapat membaca, menulis, menghitung, berketerampilan dan bertindak sesuai dengan norma budaya setempat.

filsafat pendidikan

filsafat pendidikan

pengertian Filsafat Pendidikan dibangun dari Filsat dan Pendidikan. Istilah filsafat berasal dari dua kata Yunani, yaitu philos (berarti kecintaan) dan sophia (berarti kebijaksanaan). Dengan berdasarkan kepada makna dua perkataanYunani ini, istilah filsafat bisa diartikan sebagai perihal mencintai kebijaksanaan atau mencintai ilmu. Menurut Russell (1946), filsafat  diartikan sebagai sesuatu pengertian di antara teologi dan sains, seperti teologi, filsafat mengandung spekulasi terhadap hal yang tidak dapat dibuktikan. seperti pendekatan sains, karena filsafat juga  berusaha menggunakan akal  dan logika untuk membuktikan.

Menurut ED Miller dalam bukunya Questions That Matter (1984), filsafat bisa didefinisikan sebagai usaha untuk berpikir secara rasional dan kritis terhadap hal-hal yang penting.  Sehubungan ini, filsafat pendidikan dapat diartikan sebagai satu usaha berpikir yang rasional dan kritis terhadap hal yang penting tentang pendidikan.

Secara singkat kata filsafat bisa dipahami sebagai pemikiran atau pandangan yang benar, rasional. Pemikiran atau pandangan ini dihasilkan dari usaha kajian ahli filsafat dengan cara yang saintifik, sistematik dan logikal Pemikiran atau pandangan ini diproduksi dari usaha penelitian filsuf dengan cara yang ilmiah, sistematis dan logis

Pengertian Filsafat pendidikan adalah hasil pemikiran dan perenungan secara mendalam sampai keakar-akarnya mengenai pendidikan, Filsafat pendidikan merupakan terapan filsafat dalam pendidikan. Pendidikan membutuhkan filsafat karena masalah-masalah pendidikan bukan hanya berhubungan dengan  pelaksanaan pendidikan yang dibatasi pengalaman, tetapi permsalahan  yang lebih luas, lebih dalam, serta lebih kompleks, yang tidak dibatasi pengalaman maupun fakta-fakta pendidikan, dan tidak memungkinkan dapat dijangkau oleh sains pendidikan.

Filsafat pendidikan pada dasarnya menggunakan cara kerja filsafat dan akan menggunakan hasil-hasil dari filsafat, yaitu berupa hasil pemikiran manusia tentang realitas, pengetahuan, dan nilai.

Filsafat itu akan menjawab tiga pertanyaan dasar:

  1. apakah pendidikan itu ?
  2. apa tujuan pendidikan itu ?
  3. bagaimana merealisasikan tujuan itu ?

Menurut Zanti Arbi (1988) maksud filsafat pendidikan adalah :

  • Menginspirasikan, maksudnya memberi inspirasi kepada para pendidik untuk melaksanakan ide tertentu dalam pendidikan.
  • Menganalisis, maksudnya memeriksa secara teliti bagian-bagian pendidikan agar dapat diketahui secara jelas validitasnya.
  • Mempreskiptifkan, maksudnya upaya menjelaskan atau memberi pengarahan kepada pendidik melalui filsafat pendidikan.
  • Menginvestigasi, maksudnya memeriksa atau meneliti kebenaran suatu teori pendidikan.

Filsafat pendidikan terdiri dari apa yang diyakini seorang guru mengenai pendidikan, atau merupakan kumpulan prinsip yang membimbing tindakan profesional guru. Setiap guru baik mengetahui atau tidak memiliki suatu filsafat pendidikan, yaitu seperangkat keyakinan mengenai bagaimana manusia belajar dan tumbuh serta apa yang harus manusia pelajari agar dapat tinggal dalam kehidupan yang baik.

Filsafat pendidikan secara mendasar juga berhubungan dengan pengembangan semua aspek pengajaran. Dengan menempatkan filsafat pendidikan pada tataran praktis, para guru dapat menemukan berbagai pemecahan permasalahan pendidikan.

Terdapat hubungan yang kuat antara perilaku guru dengan keyakinannya:

Keyakinan mengenai pengajaran dan pembelajaran. Komponen penting filsafat pendidikan seorang guru adalah bagaimana melihat  pengajaran dan pembelajaran, dengan kata lain, apa peran pokoknya sebagai guru? Sebagian guru memandang pengajaran sebagai sains, suatu aktifitas kompleks. Sebagian lain memandang sebagai suatu seni, pertemuan yang sepontan, tidak berulang dan kreatif antara guru dan siswa. Yang lainnya lagi memandang sebagai aktifitas sains dan seni. Berkenaan dengan pembelajaran, sebagian guru menekankan pengalaman-pengalaman dan kognisi siswa, yang lainnya menekankan perilaku siswa.

  • Keyakinan mengenai siswa. Hal ini memberikan berpengaruh besar bagaimana seorang guru mengajar? Seperti apa siswa yang guru yakini, itu didasari pada pengalaman kehidupan unik guru. Pandangan negatif terhadap siswa menampilkan hubungan guru-siswa pada ketakutan dan penggunaan kekerasan tidak didasarkan kepercayaan dan kemanfaatan.Guru yang memiliki pemikiran filsafat pendidikan mengetahui bahwa setiap anak memiliki karakter sendiri dalam beajarnya
  • Keyakinan mengenai pengetahuan, Berkaitan dengan bagaimana guru menerapkan pengajaran. Dengan filsafat pendidikan, guru dapat memandang pengetahuan secara menyeluruh, tidak merupakan bagian2 subyek yang atau bagian fakta yang terpisah.
  • Keyakinan mengenai apa yang perlu diketahui. Guru menginginkan para siswanya belajar sebagai hasil dari usaha mereka, sekalipun masing-masing guru berbeda dalam meyakini apa yang harus diajarkan.

Mazhab / Aliran Filsafat Pendidikan

Dalam filsafat terdapat berbagai mazhab/aliran-aliran, seperti materialisme, idealisme, realisme, pragmatisme, dan lain-lain. Karena filsafat pendidikan merupakan terapan dari filsafat, sedangkan filsafat beraneka ragam alirannya, maka dalam filsafat pendidikan pun kita akan temukan berbagai aliran, sekurang-kurnagnya sebanyak aliran filsafat itu sendiri.

Brubacher (1950) mengelompokkan filsafat pendidikan menjadi dua bagian yang besar, yaitu

Filsafat pendidikan “progresif” didukung oleh filsafat pragmatisme dari John Dewey, dan romantik naturalisme dari Roousseau

Filsafat pendidikan “ Konservatif”. Didasari oleh filsafat idealisme, realisme humanisme (humanisme rasional), dan supranaturalisme atau realisme religius.

Filsafat-filsafat tersebut melahirkan filsafat pendidikan esensialisme, perenialisme, dan sebagainya.

aliran-aliran filsafat pendidikan:

  1. Filsafat Pendidikan Idealisme memandang bahwa realitas akhir adalah roh, bukan materi, bukan fisik. Pengetahuan yang diperoleh melaui panca indera adalah tidak pasti dan tidak lengkap. Aliran filsafat pendidikan ini memandang nilai adalah tetap dan tidak berubah, seperti apa yang dikatakan baik, benar, cantik, buruk secara fundamental tidak berubah dari generasi ke generasi. Tokoh-tokoh dalam aliran ini adalah: Plato, Elea dan Hegel, Emanuael Kant, David Hume, Al Ghazali
  2. Filsafat Pendidikan Realisme merupakan filsafat yang memandang realitas secara dualistis. Realisme berpendapat bahwa hakekat realitas ialah terdiri atas dunia fisik dan dunia rohani. Realisme membagi realitas menjadi dua bagian, yaitu subjek yang menyadari dan mengetahui di satu pihak dan di pihak lainnya adalah adanya realita di luar manusia, yang dapat dijadikan objek pengetahuan manusia. Beberapa tokoh yang beraliran realisme: Aristoteles, Johan Amos Comenius, Wiliam Mc Gucken, Francis Bacon, John Locke, Galileo, David Hume, John Stuart Mill.
  3. Filsafat Pendidikan Materialisme berpandangan bahwa hakikat realisme adalah materi, bukan rohani, spiritual atau supernatural. Beberapa tokoh yang beraliran materialisme: Demokritos, Ludwig Feurbach
  4. Filsafat Pendidikan Pragmatisme dipandang sebagai filsafat Amerika asli. Namun sebenarnya berpangkal pada filsafat empirisme Inggris, yang berpendapat bahwa manusia dapat mengetahui apa yang manusia alami. Beberapa tokoh yang menganut filsafat ini adalah: Charles sandre Peirce, wiliam James, John Dewey, Heracleitos.
  5. Filsafat Pendidikan Eksistensialisme memfokuskan pada pengalaman-pengalaman individu. Secara umum, eksistensialisme menekankn pilihan kreatif, subjektifitas pengalaman manusia dan tindakan kongkrit dari keberadaan manusia atas setiap skema rasional untuk hakekat manusia atau realitas. Beberapa tokoh dalam aliran ini: Jean Paul Satre, Soren Kierkegaard, Martin Buber, Martin Heidegger, Karl Jasper, Gabril Marcel, Paul Tillich
  6. Filsafat Pendidikan Progresivisme bukan merupakan bangunan filsafat atau aliran filsafat yang berdiri sendiri, melainkan merupakan suatu gerakan dan perkumpulan yang didirikan pada tahun 1918. Aliran ini berpendapat bahwa pengetahuan yang benar pada masa kini mungkin tidak benar di masa mendatang. Pendidikan harus terpusat pada anak bukannya memfokuskan pada guru atau bidang muatan. Beberapa tokoh dalam aliran ini : George Axtelle, william O. Stanley, Ernest Bayley, Lawrence B.Thomas, Frederick C. Neff
  7. Filsafat Pendidikan Esensialisme, suatu filsafat pendidikan konservatif yang pada mulanya dirumuskan sebagai suatu kritik pada trend-trend progresif di sekolah-sekolah. Mereka berpendapat bahwa pergerakan progresif telah merusak standar-standar intelektual dan moral di antara kaum muda. Beberapa tokoh dalam aliran ini: william C. Bagley, Thomas Briggs, Frederick Breed dan Isac L. Kandell.
  8. Filsafat Pendidikan Perenialisme Merupakan suatu aliran dalam pendidikan yang lahir pada abad kedua puluh. Perenialisme lahir sebagai suatu reaksi terhadap pendidikan progresif. Mereka menentang pandangan progresivisme yang menekankan perubahan dan sesuatu yang baru. Perenialisme memandang situasi dunia dewasa ini penuh kekacauan, ketidakpastian, dan ketidakteraturan, terutama dalam kehidupan moral, intelektual dan sosio kultual. Oleh karena itu perlu ada usaha untuk mengamankan ketidakberesan tersebut, yaitu dengan jalan menggunakan kembali nilai-nilai atau prinsip-prinsip umum yang telah menjadi pandangan hidup yang kukuh, kuat dan teruji. Beberapa tokoh pendukung gagasan ini adalah: Robert Maynard Hutchins dan ortimer Adler.
  9. Filsafat Pendidikan rekonstruksionisme merupakan kelanjutan dari gerakan progresivisme. Gerakan ini lahir didasarkan atas suatu anggapan bahwa kaum progresif hanya memikirkan dan melibatkan diri dengan masalah-masalah masyarakat yang ada sekarang. Rekonstruksionisme dipelopori oleh George Count dan Harold Rugg pada tahun 1930, ingin membangun masyarakat baru, masyarakat yang pantas dan adil. Beberapa tokoh dalam aliran ini:Caroline Pratt, George Count, Harold Rugg.

Demikian artikel singkat Filsafat pendidikan dan tokoh-tokoh Aliran filsafat pendidikan, semoga bermanfaat

Be the first to comment

Filsafat Islam seperti namanya mengacu pada kegiatan filosofis dalam lingkungan Islam. Sumber utama filsafat Islam klasik atau awal adalah agama Islam itu sendiri (terutamaide-ide berasal dan ditafsirkan dari Al-Qur’an). Jika ide-ide bersumberkan dari AlQur’an, lalu mengapa ada banyak aliran dalam pemikiran filsafa Islam? Mari kita bahas bersama di blog Jaringan Komputer dan Ilmu Pengetahuan ini.

Sejarah Filsafat Islam

Filsafat Islam mengacu pada filosofi yang diproduksi dalam masyarakat Islam. Hal ini tidak selalu peduli dengan isu agama, bukan eksklusif dihasilkan oleh Muslim. (OliverLeaman, Routledge Encyclopedia of Philosophy)

Islamic philosophy refers to philosophy produced in an Islamic society. It is not necessarily concerned with religious issues, nor exclusively produced by Muslims. [Oliver Leaman, Routledge Encyclopedia of Philosophy

filsafat islam

Sebuah naskah Arab dariabad ke-13 yang menggambarkan Sokrates dalam diskusi dengan murid-muridnya(filsafat islam)

filsafat Yunani yang diwarisi umat Islam awal sebagai hasil dari penaklukan ketika Alexandria, Suriah dan Jundishapur berada di bawah kekuasaan Islam, bersama dengan pra-Islam filsafat India dan filsafat Iran. Banyak perdebatan filosofis awal berpusat di sekitar mendamaikan agama dan nalar,yang terakhir dicontohkan oleh filsafat Yunani. Salah satu aspek yang menonjol dalamfilsafat Islam adalah bahwa, dalam Filsafat Islam, lebar tapi perjalanan kembali agar sesuai dengan Quran dan Sunnah.

Sebenarnya menggabungkan agama dan filsafat sangatlah rumit karena tidak ada ketentuan yang  jelas. Filsuf secara tipikal memegang bahwa seorang harus menerima kemungkinan kebenaran dari manapun sumbernya dan mengikuti perdebatan ke manapun. seorang  penganut agama klasik memiliki prinsip agama yang mereka pegang sebagai fakta dan tidak dapat ditantang. Pembahasan tentang filsafat Islam biasanya hanya seputad pada masalah dasar dalam epistemologi yaitu sumber wahyu dan akal. Sejak dahulu kala hinggaa saat ini persoalan-persoalan tentang dua sumber inilah yang terus menerus diperdebatkan hingga timbul beberapa aliran dan mazhab dalam pemikiran Islam. Namun perkembangan filsafat Islam menjadi semakin matang dan luas melalui faktor utamanya yaitu terjemahan karya-karya dari filsafat Yunani kedalam pemikiran Islam. Jika  dilihat dari sejarah, para filosof dari tradisi ini sebenarnya bisa dikatakan juga merupakan ahli waris tradisi Filsafat Barat (Yunani).

Menilik sejarah  filsafat Islam dan perkembangan pemikiran Islam, Beberapa ahli sejarah berpendapat bahwa perpindahan dan terjemahan filsafat Yunani ini dimulai pada zaman Khalifah Al-Abbasi Al-Makmun pada tahun 215 Hijriah. Harus kita ketahui filsafat Yunani ini mudah diterima oleh orang-orang Islam sebelum zaman Khalifah Al-Makmun, karena banyak pusat-pusat pendidikan atau Madrasah yang muncul ketika era pembukaan wilayah Islam seperti Madrasah Alexandariah. Boleh jadi saat itu  orang-orang Islam sudah mempelajari dan menerima filsafat Yunani ini di Madrasah tersebut. Kesan dari terjemahan ini menjadikan karya-karya filsuf Yunani seperti Aristoteles dan Plato semakin terkenal dan diminati.

Ada yang berpendapat  tentang sumbangan peradaban Islam terhadap filsafat dan ilmu pengetahuan, berkembang sampai sekarang  ini. Pendapat  yang pertama mengatakan bahwa orang Eropa belajar filsafat dari filosof Yunani seperti Aristoteles, melalui kitab-kitab yang disalin oleh St. Agustine (354–430 M), yang kemudian diteruskan oleh Anicius Manlius Boethius (480–524 M) dan John Scotus. Pendapat kedua menyatakan bahwa orang Eropa belajar filsafat orang-orang Yunani dari buku-buku filsafat Yunani yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab oleh filosof Islam seperti Al-Kindi dan Al-Farabi. Terhadap pendapat pertama Hoesin (1961) dengan tegas menolaknya, karena menurutnya salinan buku filsafat Aristoteles seperti Isagoge, Categories, dan Porphyry telah dimusnahkan oleh pemerintah Romawi bersamaan dengan eksekusi mati terhadap Boethius, yang dianggap telah menyebarkan ajaran yang dilarang oleh negara.  Selanjutnya dikatakan bahwa seandainya kitab-kitab terjemahan Boethius menjadi sumber perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan di Eropa, maka John  Salisbury, seorang guru besar filsafat di Universitas Paris, tidak akan menyalin kembali buku Organon karangan Aristoteles dari terjemahan­terjemahan berbahasa Arab, yang telah dikerjakan oleh filosof Islam (Haerudin, 2003).

Namun perpindahan dan terjemahan filsafat Yunani ini bukan mudah untuk diterima oleh semua orang Islam. Sehingg akan  ada beberapa pendapat yang mengharuskan dan menentang terjemahan ini.

  1. Bagi kelompok yang menentang seperti Ibnu Solah berpendapat bahwa terjemahan filsafat Yunani ini akan mempengaruhi kesesatan dan penyimpangan akidah.
  2. bagi kaum jaman  pertengahan, mereka menerima dan mengambil beberapa penelitian dan kritik untuk apa yang dinilai baik maupun yang tidak baik.Golongan ini termasuk Mu’tazilah dan Al-Asya’irah. Sehingga Imam Ghazali membenarkan kepada tiga bahagian.Bahagian satu menghukumkannya sebagai kufur.Keduanya menyebut sebagai bid’ah dan Ketiga tidak bisa diingkar.
  3. Golongan yang memandang mulia dan taajub. Disinilah lahirnya anggota-anggota Filsafat Islam seperti Al-Kindi, Al-Farabi, Ibnu Sina dan Ibn Rusyd.

Aliran-Aliran Filsafat Islam

Pada umumnya terdapat empat aliran-aliran besar dalam sejarah Filsafat Islam

  1. Filsafat taklidiah-Seperti Al-Kindi, Al-Farabi, Ibnu Sina dan Ibn Rusyd. Mereka mengalami dan mempelajari filsafat Yunani dengan tekun dan mengambil studi beberapa karya-karya penting khususnya dari Aristoteles dan Plato serta melakukan kritik terhadap para filsuf Yunani tersebut.Ini berarti mereka tidak menjadikan filsafat Yunani sebagai sumber referensi asal tetapi menggunakan Al-quran sebagai sumber utama kemudian berusaha mencari titik pertemuan antara kedua sumber tersebut.Tetapi mereka tidak mengambil filsafat Yunani secara taklid buta bahkan memelihara konten-konten sumber utama mereka yaitu Al-quran.
  2. Imu Kalam,
  3. Ilmu Fiqh dan
  4. Ilmu Tasawwuf.

Filsafat Islam Hakekatnya bersumber dari wahyu sebagai inti dan akal sebagai pendukungnya. Aliran ini muncul menyusul dari pergolakan internal dikalangan umat Islam sendiri setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW disamping reaksi terhadap pengaruh filsafat Yunani dan peradaban asing terhadap umat Islam. Dengan perkembangan baru seperti ini timbullah berbagai perubahan terutama perubahan pemikiran yang membentuk berbagai mazhab dan aliran tertentu.

Menurut Kartanegara (2006) dalam filsafat Islam ada empat aliran yakni:

  1. Filsafat Islam Peripatetik (memutar atau berkeliling) merujuk kebiasaan Aristoteles yang selalu berjalan-jalan mengelilingi muridnya ketika mengajarkan filsafat. Ciri khas aliran ini secara metodologis atau epistimologis adalah menggunakan logika formal yang berdasarkan penalaran akal (silogisme), serta penekanan yang kuat pada daya-daya rasio. Tokoh-tokohnya yang terkenal yakni: Al Kindi (w. 866), Al Farabi (w. 950), Ibnu Sina (w. 1037), Ibn Rusyd (w. 1196), dan Nashir al Din Thusi (w.1274).
  2. Filsafat Islam Aliran Iluminasionis (Israqi). Didirikan oleh pemikir Iran, Suhrawardi Al Maqtul (w. 1191). Aliran ini memberikan tempat yang penting bagi metode intuitif (irfani). Menurutnya dunia ini terdiri dari cahaya dan kegelapan. Baginya Tuhan adalah cahaya sebagai satu-satunya realitas sejati (nur al anwar), cahaya di atas cahaya.
  3. Filsafat Islam, Aliran Irfani (Tasawuf). Tasawuf bertumpu pada pengalaman mistis yang bersifat supra-rasional. Jika pengenalan rasional bertumpu pada akal maka pengenalan sufistik bertumpu pada hati. Tokoh yang terkenal adalah Jalaluddin Rumi dan Ibn Arabi.
  4. Filsafat Islam, Aliran Hikmah Muta’aliyyah (Teosofi Transeden). Diwakili oleh seorang filosof syi’ah yakni Muhammad Ibn Ibrahim Yahya Qawami yang dikenal dengan nama Shadr al Din al Syirazi, Atau yang dikenal dengan Mulla Shadra yaitu seorang filosof yang berhasil mensintesiskan ketiga aliran di atas.

Dalam pandangan Filsafat Islam, fenomena alam tidaklah berdiri tanpa ada hubungan dan kekuasaan ilahi. Mempelajari alam berarti akan mempelajari  ciptaannya. Dengan demikian penelitian alam semesta (jejak-jejak ilahi) akan mendorong kita untuk mengenal ilahi dan semakin mempertebal keyakinan terhadapnya. Fenomena alam bukanlah realitas-realitas independen melainkan tanda-tanda Allah SWT. Fenomena alam adalah ayat-ayat yang bersifat qauniyyah, sedangkan kitab suci ayat-ayat yang besifat qauliyah. Oleh sebab  itu ilmu-ilmu agama dan umum menempati posisi yang mulia sebagai obyek ilmu.

Tokoh-Tokoh Filsafat Islam Zaman Kejayaan Islam

Islam tidak hanya mendukung adanya kebebasan intelektual, tetapi juga membuktikan kecintaan umat Islam terhadap ilmu pengetahuan dan sikap hormat mereka kepada ilmuwan, tanpa memandang agama mereka. Periode antara 750 M dan 1100 M adalah abad masa keemasan dunia Islam. Plato dan Aristoteles telah memberikan pengaruh yang besar pada mazhab-mazhab Islam, khususnya mazhab Peripatetik.

  1. Al Farabi sangat berjasa dalam mengenalkan dan mengembangkan cara berpikir logis (logika) kepada dunia Islam. Berbagai karangan Aristoteles  seperti Categories, Hermeneutics, First, dan Second Analysis telah diterjemahkan Al Farabi ke dalam bahasa Arab. Al Farabi telah membicarakan berbagai sistem logika dan cara berpikir deduktif maupun induktif. Di samping itu beliau dianggap sebagai peletak dasar pertama ilmu musik dan menyempurnakan ilmu musik yang telah dikembangkan sebelumnya oleh Phytagoras. Oleh karena jasanya ini, maka Al Farabi diberi gelar Guru Kedua, sedang gelar Guru Pertama diberikan kepada Aristoteles.Kontribusi lain dari Al Farabi yang dianggap cukup bernilai adalah usahanya mengklasifikasi ilmu pengetahuan. Al Farabi telah memberikan defenisi dan batasan setiap ilmu pengetahuan yang berkembang pada zamannya. Al Farabi mengklasifikasi ilmu ke dalam tujuh cabang yaitu: logika, percakapan, matematika, fisika, metafisika, politik, dan ilmu fiqih (hukum).
  2. Ibnu Sina dikenal di Barat dengan sebutan Avicienna. Selain sebagai seorang filosof, ia dikenal sebagai seorang dokter dan penyair. Ilmu pengetahuan yang ditulisnya banyak ditulis dalam bentuk syair. Bukunya yang termasyhur Canon, telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin oleh Gerard Cremona di Toledo. Buku ini kemudian menjadi buku teks (text book) dalam ilmu kedokteran yang diajarkan pada beberapa perguruan tinggi di Eropa, seperti Universitas Louvain dan Montpelier. Dalam kitab Canon, Ibnu Sina telah menekankan betapa pentingnya penelitian eksperimental untuk menentukan khasiat suatu obat. Ibnu Sina menyatakan bahwa daya sembuh suatu jenis obat sangat tergantung pada ketepatan dosis dan ketepatan waktu pemberian. Pemberian obat hendaknya disesuaikan dengan kekuatan penyakit.Kitab lainnya berjudul Al Shifa diterjemahkan oleh Ibnu Daud (di Barat dikenal dengan nama Avendauth Ben Daud) di Toledo. Oleh karena Al Shifa sangat tebal, maka bagian yang diterjemahkan oleh Ibnu Daud terbatas pada pendahuluan ilmu logika, fisika, dan  De Anima. Ibnu Sina membagi filsafat atas bagian yang bersifat teoretis dan bagian yang bersifat praktis. Bagian yang bersifat teoretis meliputi: matematika, fisika, dan metafisika, sedang bagian yang bersifat praktis meliputi: politik dan etika.Ibnu Sina, mengatakan alam pada dasarnya adalah potensi (mumkin al wujud) dan tidak mungkin bisa mengadakan dirinya sendiri tanpa adanya Tuhan. Ibnu Sina mengelompokkan ilmu dalam tiga macam yakni (1) obyek-obyek yang secara niscaya tidak berkaitan dengan materi dan gerak (metafisik), (2) obyek-obyek yang senantiasa berkaitan dengan materi dan gerak (fisika), (3) obyek-obyek yang pada dirinya immateriel tetapi kadang melakukan kontak dengan materi dan gerak (matematika). Dalam bidang ilmu farmakologi dan medis dikenal karya Ibnu Sina yakni Al Qanun fi al Thibb dan Al Hawi oleh Abu Bakr Al Razi, bidang nutrisi dikenal karya Ibn Bathar yakni Al Jami Li Mufradat Al Adawiyyah wa Al Aghdziyah, di bidang zoologi dikenal karya Al Jahizh yang berjudul Al Hayawan dan Hayat Al Hayawan oleh Al Damiri. Di Andalusia terkenal seorang ahli bedah muslim, Ibn Zahrawi yang telah mencitakan ratusan alat bedah yang sudah sangat maju untuk ukuran zamannya.
  3. Ibn Khaldun dalam kitabnya Al Muqaddimah membagi metafisika dalam lima bagian. Bagian pertama berbicara tentang hakikat  wujud (ontologi). Dari sini muncul dua aliran besar yakni eksistensialis (tokoh yang terkemuka adalah Ibnu Sina dan Mhulla Shadra) dan esensialis (tokoh yang terkemuka adalah Syaikh Al Israq, Suhrawardi). Berikutnya Ibn Khaldun membagi ilmu matematika ke dalam empat subdivisi yakni (1) geometri; trigonometrik dan kerucut, surveying tanah, dan optik. Sarjana muslim terutama Ibn Haitsam telah banyak mempengaruhi sarjana barat termasuk Roger Bacon, Vitello dan Kepler (2)Aritmetika; seni berhitung/hisab, aljabar, aritmatika bisnis dan faraid (hukum waris), (3) musik, (4) astronomi.
  4. Albiruni, dikenal dalam bidang ilmu mineral, dikenal karya Al Biruni yang berjudul Al Jawahir (batu-batu permata), selain itu pada abad ke-11 Al Biruni dikenal sebagai The master of observation di bidang geologi dan geografi karena Al Biruni berusaha mengukur keliling bumi melalui metode eksperimen dengan menggabungkan metode observasi dan teori trigonometri. Akhirnya ia sampai pada kesimpulan bahwa keliling bumi adalah 24.778,5 mil dengan diameter 7.878 mil. Tentu saja ini merupakan penemuan luar biasa untuk masa itu, dengan ukuran modern saja yaitu  24.585 mil (selisih ± 139 mil) dengan diameter 7.902 mil.
  5. Al Kindi, filosof Arab pertama yang mempelajari filsafat. Ibnu Al Nadhim mendudukkan Al Kindi sebagai salah satu orang termasyhur dalam filsafat alam (natural philosophy). Buku-buku Al-Kindi membahas mengenai berbagai cabang ilmu pengetahuan seperti geometri, aritmatika, astronomi, musik, logika dan filsafat. Ibnu Abi Usai’bia menganggap Al-Kindi sebagai penerjemah terbaik kitab-kitab ilmu kedokteran dari bahasa Yunani ke dalam bahasa Arab. Di samping sebagai penerjemah, Al Kindi menulis juga berbagai makalah. Ibnu Al Nadhim memperkirakan ada 200 judul makalah yang ditulis Al Kindi dan sebagian di antaranya tidak dapat dijumpai lagi, karena raib entah kemana. Nama Al Kindi sangat masyhur di Eropa pada abad pertengahan. Bukunya yang telah disalin ke dalam bahasa Latin di Eropa berjudul De Aspectibus berisi uraian tentang geometri dan ilmu optik, mengacu pada pendapat Euclides, Heron, dan Ptolemeus. Salah satu orang yang sangat kagum pada berbagai tulisannya adalag filosof kenamaan Roger Bacon.
  6. Ibnu Rushd yang lahir dan dibesarkan di Cordova, Spanyol, meskipun seorang dokter dan telah mengarang buku ilmu kedokteran berjudul Colliget, yang dianggap setara dengan kitab Canon karangan Ibnu Sina, lebih dikenal sebagai seorang filosof. Ibnu Rushd telah menyusun 3 komentar mengenai Aristoteles, yaitu: komentar besar, komentar menengah, dan komentar kecil. Ketiga komentar tersebut dapat dijumpai dalam tiga bahasa: Arab, Latin, dan Yahudi. Dalam komentar besar, Ibnu Rushd menuliskan setiap kata dalam Stagirite karya Aristoteles dengan bahasa Arab dan memberikan komentar pada bagian akhir. Dalam komentar menengah ia masih menyebut-nyebut Aritoteles sebagai Magister Digit, sedang pada komentar kecil filsafat yang diulas murni pandangan Ibnu Rushd.Pandangan Ibnu Rushd yang menyatakan bahwa jalan filsafat merupakan jalan terbaik untuk mencapai kebenaran sejati dibanding jalan yang ditempuh oleh ahli agama, telah memancing kemarahan pemuka­pemuka agama, sehingga mereka meminta kepada khalifah yang memerintah di Spanyol untuk menyatakan Ibnu Rushd sebagai atheis. Sebenarnya apa yang dikemukakan oleh Ibnu Rushd sudah dikemukakan pula oleh Al Kindi dalam bukunya Falsafah El Ula (First Philosophy). Al Kindi menyatakan bahwa kaum fakih tidak dapat menjelaskan kebenaran dengan sempurna, oleh karena pengetahuan mereka yang tipis dan kurang bernilai (Haeruddin, 2003).
Tokoh Filsafat Islam Kontemporer
Ahli Filsafat Islam

Dr Allama Muhammad Iqbal (1877-1938), seorang Ahli Filsafat Islam terkenal, penyair dan sarjana dari India

Tradisi Filsafat Islam masih sangat banyak hidup saat ini, meskipun keyakinan di kalangan Barat banyak tradisi ini berhenti setelah masa keemasan.
Dalam Lahan Islam kontemporer, ajaran hikmat atau hikmah berkembang terus.

  1. Ayatullah Ruhullah Khomeini, pendiri Rebublic Islam Iran, adalah seorang guru terkenal dari sekolah filsafat Hikmat-ul-Mutaliya. Sebelum kemenangan Revolusi Islam, ia adalah salah satu dari sedikit orang yang secara resmi mengajar filsafat di Seminari Agama di Qum.
    Iran علامه طباطبائى atau Allameh Tabatabaei, penulis sejumlah karya termasuk komentar dua puluh tujuh jilid Quran Al-Mizan (الميزان),
  2. Buya Hamka atau Haji Abdul Malik Karim Amirullah adalah seorang penulis terkemuka Indonesia, politisi ulama, pemikir filosofis, dan penulis Tafir Al Azhar. Dia adalah Ketua majelis Ulama Indonesia (MUI). Beliau mengundurkan diri ketika fatwanya kepada kaum  Muslimin untuk tidak merayakan Natal  dikutuk oleh rezim Suharto. Buya Hamka tidak  hanya sebagai seorang sarjana dan penulis di negaranya, tapi ia juga sangat dihargai di Malaysia dan Singapura.
  3. Murtaza Muthahhari, mahasiswa terbaik dari Allamah Tabatabai, seorang martir dari Revolusi Islam Iran, dan penulis sejumlah buku (sebuah kompilasi lengkap dari karya-karyanya terdiri dari 25 volume). Dia, seperti Allamah Tabatabai nya guru dan Ayatullah Khomeini, termasuk sekolah-sekolah filosofis Hikmat-ul-Mutaliya
    Sayyid Abul Ala Maududi, yang dikreditkan dengan menciptakan pemikiran politik modern Islam di abad ke-20, adalah pendiri dari “Jamaah e Islami” dan menghabiskan hidupnya dalam upaya untuk menghidupkan kembali Tradisi Intelektual Islam.
  4. DR. Israr Ahmed, (April 26, 1932 – April 14, 2010) adalah seorang teolog Islam Pakistan diikuti khususnya di Asia Selatan dan juga di antara diaspora Asia Selatan di Timur Tengah, Eropa Barat, dan Amerika Utara Lahir. di Hissar, (sekarang  Haryana) di India, putra kedua dari seorang pegawai pemerintah, dia adalah pendiri Tanzeem-e-Islami, dan jebolan dari amaat-e-Islami.A great Scholar of Islam and Quran.
  5. Muhammad Hamidullah (9 Februari 1908 – 17 Desember 2002) adalah  keluarga sarjana, ahli hukum, penulis, dan sufi. Dia adalah seorang sarjana terkenal di dunia Islam dan Hukum Internasional dari India, yang dikenal untuk kontribusi untuk penelitian tentang sejarah Hadis, terjemahan Alquran, kemajuan pembelajaran Islam, dan penyebaran ajaran Islam di Barat dunia.
    Fazlur Rahman adalah seorang profesor pemikiran Islam di University of Chicago
  6. Wahid Hasyim Indonesia pertama menteri urusan agama. Mantan Ketua Nahdatul  Ulama Indonesia  dan Universitas Islam  di Indonesia.  ide yang dikenal adalah reformasi kurikulum Madrasah.
  7. Seyyed Hossein Nasr.
  8. Imran Nazar Hosein Author of Jerusalem in the Quran
  9. Javed Ahmad Ghamidi adalah seorang sarjana terkenal Islam Pakistan, Ahli tafsir, dan pendidik.

Dalam studi terbaru oleh para pemikir kontemporer muslim yang bertujuan”memperbarui dorongan pemikiran Dalam studi terbaru  oleh para pemikir kontemporer muslim yang bertujuan”memperbarui dorongan pemikiran filsafat dalam Islam”, Nader El-Bizri menawarkan analisis kritis terhadap konvensi metodologi dan historiografi yang mendominasipendekatan akademik dan epistemis utama dalam mempelajari ‘filsafat Islam’ dari ‘arsip’sudut pandang, dalam Studi Oriental dan Mediaevalist, yang gagal mengakui kenyataan bahwa ‘filsafat dalam Islam‘ masih bisa menjadi tradisi intelektual yang hidup, dan bahwapembaruan memerlukan reformasi radikal dalam ontologi dan epistemologi dalam pemikiran Islam”, Nader El-Bizri menawarkan analisis kritis terhadap konvensi metodologi dan historiografi yang mendominasi pendekatan akademik dan epistemis utama dalam mempelajari Dalam studi terbaru oleh para pemikir kontemporer muslim yang bertujuan”memperbarui dorongan pemikiran filsafat dalam Islam”, Nader El-Bizri menawarkan analisis kritis terhadap konvensi metodologi dan historiografi yang mendominasipendekatan akademik dan epistemis utama dalam mempelajari ‘filsafat Islam’ dari ‘arsip’sudut pandang, dalam Studi Oriental dan Mediaevalist, yang gagal mengakui kenyataan bahwa ‘filsafat dalam Islam’ masih bisa menjadi tradisi intelektual yang hidup, dan bahwa pembaruan memerlukan reformasi radikal dalam ontologi dan epistemologi dalam pemikiran Filsafat Islam.

1 Comment. Join the Conversation

Filsafat dan Agama sering dianggap suatu hal yang bertentangan. Konflik pemikiran ini seringkali muncul pada orang yang cenderung berfikir filosofis dengan orang yang berfikir agamis, pada hal filsafat dan agama memiliki tujuan yang sama  untuk kemajuan, dan keduanya tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia. Di blog Jaringan Komputer dan Ilmu pengetahuan. Mari kita menelusuri lebih jauh pengertian filsafat, agama dan hubungan dan perbedaan Filsafat Vs Agama.

Pengertian Filsafat dan Agama dan Perbedaannya

perbedaan filsafat dan agama

hubungan filsafat dan agama

Untuk menyusuri seluk-beluk filsafat dan agama  ke akar-akarnya perlu diketahui terlebih dahulu memahami definisi agama dan filsafat  itu. Istilah filsafat dan agama adalah suatu hal yang berlawanan pada pemikiran kebanyakan orang. Filsafat berlandaskan pada akal, sedangkan agama berlandaskan wahyu. Oleh karena itu, agama banyak dikaitkan dengan pengalaman seseorang. Filsafat membahas suatu kebenaran dengan parameter yang dapat diukur, apakah sesuatu itu logis atau tidak logis. Sedangkan agama tidak harus mengukur kebenaran dari segi logisnya karena agama seringkali tidak  memperhatikan aspek logisnya.

Pengertian Filsafat.

Istilah “filsafat” dapat ditinjau dari dua segi, yakni:
a. Segi semantik:
berasal dari bahasa Arab ‘falsafah’, yang berasal dari bahasa Yunani, ‘philosophia’, yang berarti ‘philos’ = cinta, suka (loving), dan ‘sophia’ = pengetahuan, hikmah (wisdom). Jadi’philosophia ‘berarti cinta kepada kebijaksanaan atau cinta kepada kebenaran. Maksudnya, setiap orang yang berfilsafat akan menjadi bijaksana. Orang yang cinta kepada pengetahuan disebut ‘philosopher’, dalam bahasa Arabnya ‘filosof “. Pecinta pengetahuan adalah orang yang menjadikan pengetahuan sebagai tujuanhidupnya, atau kata lain, mengabdikan dirinya kepada pengetahuan.

b. Segi praktis:
dilihat dari pengertian praktisnya, filsafat berarti ‘alam pikiran’ atau ‘alam berpikir’. Berfilsafat artinya berpikir. Namun tidak semua berpikir berarti berfilsafat. Berfilsafat adalah berpikir secara mendalam dan sungguh-sungguh. Sebuah slogan mengatakan bahwa “setiap manusia adalah filsuf”. Slogan ini benar juga, sebab semua manusia berpikir. Akan tetapi secara umum ia jadi tidak benar, sebab tidak semua manusia yang berpikir adalah filsuf. Filsuf hanyalah orang yang memikirkan hakikat segala sesuatu dengan sungguh-sungguh dan mendalam. Tegasnya: Filsafat adalah hasil akal seorang manusia yang mencari dan memikirkan suatu kebenaran dengan sedalam-dalamnya. Dengan kata lain: filsafah adalah ilmu yang mempelajari dengan sungguh-sungguh hakikat kebenaran segala sesuatu.

Pengertian Agama

Istilah “agama” berasal dari bahasa sansekerta: “a”  berarti tidak dan “gam” berarti pergi, tetap di tempat, diwarisi turun temurun dalam kehidupan manusia. Kenyataannya agama memang memiliki sifat seperti itu. Agama, bagi orang-orang dijadikan pola hidup manusia. Dick Hartoko menyebut agama itu dengan religi, yaitu ilmu yang meneliti hubungan antara manusia dengan “Yang Kudus” dan hubungan itu direalisasikan dalam ibadat-ibadat. Kata religi berasal dari bahasa Latin rele-gere yang bermakna mengumpulkan, membaca. Agama secara esensial merupakan kumpulan cara-cara pengabdian kepada Tuhan dan semua cara itu terangkum dalam kitab suci agama yang diimaninya. Di lain sisi istilah religi berasal dari religare yang berarti mengikat. Ajaran-ajaan agama memang memiliki sifat mengikat bagi pemeluknya. Seorang pemeluk agama tetap terikat dengan aturan-aturan, norma-norma dan hukum-hukum  yang telah ditetapkan oleh agama

Dalam perspektif ilmu, filsafat dan agama merupakan dua pendekatan mendasar menuju pada kebenaran. Apa yang ingin dibedakan dengan jelas di sini bukan filsafat, yang dipahami sebagai sistem rasional pemahaman (inteleksi) dan wahyu yang dirumuskan secara bebas; dan agama, yang dipahami sebagai tradisi wahyu secara total. Ini sangat jelas tampak dari kata dan Al-Farabi tentang  filsafat dan agama. Istilah yang digunakannya untuk menyatakan perbedaan agama dari filsafat adalah millah; bukan din. Ini menunjukkan kehendak Al-Farabi membedakan filsafat secara kontras tidak dengan tradisi wahyu dalam totalitasnya, melainkan dengan dimensi eksoterik tradisi wahyu. Karena itu, dia lebih suka menggunakan istilah millah dari din. Millah lebih tepat karena dia mengacu pada komunitas religius di bawah sanksi ilahi dengan seperangkat kepercayaan dan undang-undang atau perintah-perintah hukum moral yang didasarkan pada wahyu. Dimensi eksternal dari tradisi wahyu harus diidentifikasi dengan kepercayaan-kepercayaan dan praktik-praktik komunitas religius ini

Dalam Tahshîl al-sa’âfidah AI-Farabi secara terang-terangan menyatakan pandangannya perbedaan filsafat dan agama dari segi sifatnya serta hubungan antara keduanya:
Ketika seseorang memperoleh pengetahuan tentang wujud atau memetik pelajaran darinya, jika dia memahami sendiri gagasan-gagasan tentang wujud itu dengan intelektualnya, dan pembenarannya atas gagasan tersebut dilakukan dengan bantuan demonstrasi tertentu, maka ilmu yang tersusun dari pengetahuan-pengetahuan ini disebut filsafat. Tetapi jika gagasan -gagasan itu diketahui dengan membayangkannya lewat kemiripan-kemiripan yang merupakan tiruan dari mereka, dan pembenaran terhadap apa yang dibayangkan pada mereka karena metode-metode persuasif, maka orang-orang terdahulu menyebut sesuatu yang membentuk pengetahan-pengetahuan ini agama. Jika pengetahuan-pegetahuan itu sendiri diadopsi, dan metode-metode persuasif digunakan, maka agama yang mengambil mereka disebut filsafat populer, yang diterima secara umum, dan bersifat eksternal.
Al-Farabi menghidupkan kembali klaim kuno yang menyatakan bahwa agama adalah tiruan dari filsafat. Menurutnya, baik agama maupun filsafat berhubungan dengan realitas yang sama. Keduanya terdiri dari subjek-subjek yang serupa dan sama-sama melaporkan prinsip-prinsip wujud tertinggi  (yaitu, esensi Prinsip Pertama dan esensi dari prinsip-prinsip kedua nonfisik). Keduanya juga melaporkan tujuan puncak yang diciptakan demi manusia yaitu, kebahagiaan tertinggi dan tujuan puncak dari wujud-wujud lain. Tetapi, dikatakan Al-Farabi, perbedaan filsafat dan agama yaitu filsafat memberikan laporan berdasarkan persepsi intelektual. Sedangkan agama menampilkan laporannya berdasarkan imajinasi. Dalam setiap hal yang didemonstrasikan oleh filsafat, agama memakai metode-metode persuasif untuk menjelaskannya.

Perbedaan Filsafat Dan agama

Dalam buku Filsafat Agama karangan Dr. H. Rosjidi diuraikan tentang perbedaan filsafat dan agama, sebab kedua kata tersebut sering dipahami secara keliru.

Filsafat

  1. Filsafat berarti berpikir, jadi yang penting adalah ia dapat berpikir.
  2. Menurut William Temple, filsafat adalah menuntut pengetahuan untuk memahami.
  3. CS Lewis membedakan ‘enjoyment’ dan ‘contemplation’, misalnya laki-laki mencintai perempuan. Rasa cinta disebut ‘enjoyment’, sedangkan memikirkan rasa cintanya disebut ‘contemplation’, yaitu pikiran si pecinta tentang rasa cintanya itu.
  4. Filsafat banyak berhubungan dengan pikiran yang dingin dan tenang.
  5. Filsafat dapat diumpamakan seperti air telaga yang tenang dan jernih dan dapat dilihat dasarnya.
  6. Seorang ahli filsafat, jika berhadapan dengan penganut aliran atau paham lain, biasanya bersikap lunak.
  7. Filsafat, walaupun bersifat tenang dalam pekerjaannya, sering mengeruhkan pikiran pemeluknya.
  8. Ahli filsafat ingin mencari kelemahan dalam tiap-tiap pendirian dan argumen, walaupun argumennya sendiri.

Agama

  1. Agama berarti mengabdikan diri, jadi yang penting adalah hidup secara beragama sesuai dengan aturan-aturan agama itu.
  2. Agama menuntut pengetahuan untuk beribadat yang terutama merupakan hubungan manusia dengan Tuhan.
  3. Agama dapat dikiaskan dengan ‘enjoyment’ atau rasa cinta seseorang, rasa pengabdian (dedication) atau ‘contentment’.
  4. Agama banyak berhubungan dengan hati.
  5. Agama dapat diumpamakan sebagai air sungai yang terjun dari bendungan.
  6. Agama, oleh pemeluk-pemeluknya, akan dipertahankan dengan habis-habisan, sebab mereka telah terikat dan mengabdikan diri.
  7. Agama, di samping memenuhi pemeluknya dengan semangat dan perasaan pengabdian diri, juga memiliki efek yang menenangkan jiwa pemeluknya.

Perbedaan Filsafat dan Agama sangat jelas, filsafat penting dalam mempelajari agama. Demikianlah antara lain perbedaan yang ada dalam filsafat dan agama menurut Dr. H. Rosjidi.
Perbedaan filsafat-agama sebagaimana telah dirumuskan Al-Fârâbî, lagi-lagi, menjadi fokus pemusatan hierarki ilmu dalam pemikirannya. Ketika perbedaan ini diterapkan baik pada dimensi teoretis maupun praktis dari wahyu, seperti dikemukakan sebelumnya, kita akan sampai pada hasil yang menyoroti lebih jauh perlakuan Al-Fârâbî terhadap ilmu-ilmu religius dalam klasifikasinya dikaitkan dengan ilmu-ilmu filosofis. Kalâm dan fiqh, satu-satunya ilmu-ilmu religius yang muncul dalam klasifikasinya, Al-Fârâbî adalah ilmu-ilmu eksternal atau eksoterik dari dimensi-dimensi wahyu secara teoretis dan praktis. Metafisika (al-‘ilm al-ilâhî) dan politik (al-‘ilm al-madanî) berturut-turut merupakan mitra filosofisnya. Penjelasan diatas telah memberikan gambaran perbedaan Filsafat dan Agama

1 Comment. Join the Conversation

Filsafat Pendidikan Islam

Posted 26/01/2012 By admin

Filsafat Pendidikan Islam adalah penggabungan dari 3 kata, filsafat, pendidikan dan Islam atau penggabungan dari dua frase yaitu filsafat pendidikan dan filsafat Islam. Mari kita telusuri ruang lingkupnya dan apa pengertian dari filsafat pendidikan Islam itu serta Dasar Pelaksanaan Filsafat Pendidikan Islam hanya di Blog Jaringan Komputer dan Ilmu pengetahuan.

Ruang Lingkup Filsafat Pendidikan Islam

filsafat pendidikan islam

filsafat pendidikan islam

Agama Islam atau ‘Din AI Islam” secara langsung membawa arti sebagai suatu cara hidup yang mencukup  semua bidang. Esensi penting dalam cara hidup mengikut agama Islam adalah, iman,  Islam dan ihsan. untuk mencapai kesempurnaan ketiga esensi ini terletak pula kepada akal, fikiran dan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu  pendidikan dan ilmu pengetahuan  bukan hal yang asing dalam Islam tapi merupakan bagian dari Islam itu sendiri. Filsafat Pendidikan Islam adalah satu usaha berkelanjutan untuk menyampaikan  ilmu, keterampilan dan penghayatan Islam berdasarkan Al-Quran dan As-Sunah  untuk membentuk sikap, keteramplilan, keperibadian dan pandangan hidup sebagai hamba Allah yang mempunyai tanggungjawab untuk membangun diri, masyarakat, alam sekitar dan negara ke arah mencapai kebaikan di dunia dan kesejahteraan abadi di akhirat”.

Pengertian Filsafat Pendidikan Islam

Dalam bahasa Inggris philosophy yang berarti filsafat berasal dari kata Yunani “philosophia” yang lazim diterjemahkan sebagai cinta kearifan . Akar katanya ialah philos (philia, cinta) dan sophia (kearifan) lihat pengertian filsafat. Menurut pengertiannya yang semula dari zaman Yunani Kuno itu filsafat berarti cinta kearifan. Dengan demikian, filsafat berarti cinta cinta terhadap kearifan, ilmu atau hikmah. Terhadap pengertian seperti ini al-Syaibani mengatakan bahwa filsafat bukanlah hikmah itu sendiri, melainkan cinta terhadap hikmah dan berusaha mendapatkannya, memusatkan perhatian padanya dan menciptakan sikap positif terhadapnya. Selanjutnya ia menambahkan bahwa filsafat dapat pula berarti mencari hakikat sesuatu, berusaha menautkan sebab dan akibat, dan berusaha menafsirkan pengalaman-pengalaman manusia. Selain itu terdapat pula teori lain yang mengatakan bahwa filsafat berasal dari kata Arab falsafah, yang berasal dari bahasa Yunani, Philosophia: philos berarti cinta, suka (loving), dan sophia yang berarti pengetahuan, hikmah (wisdom). Jadi, Philosophia berarti cinta kepada kebijaksanaan atau cinta kepada kebenaran atau lazimnya disebut Pholosopher yang dalam bahasa Arab disebut failasuf.

Dalam Filsafat Pendidikan Islam, ilmu merupakan hal yang sangat dianjurkan. Dalam Al Quran kata al-ilm dan kata-kata jadiannya digunakan lebih 780 kali. Hadis juga menyatakan mencari ilmu itu wajib bagi setiap muslim. Dalam pandangan Allamah Faydh Kasyani dalam bukunya Al Wafi: ilmu yang diwajibkan kepada setiap muslim adalah ilmu yang mengangkat posisi manusia pada hari akhirat, dan mengantarkannya pada pengetahuan tentang dirinya, penciptanya, para nabinya, utusan Allah, pemimpin Islam, sifat Tuhan, hari akhirat, dan hal-hal yang mendekatkan diri kepada Allah.

Dalam Filsafat Pendidikan Islam,  keilmuan Islam, fenomena alam tidaklah berdiri tanpa relasi dan relevansinya dengan kuasa Ilahi. Mempelajari alam berarti akan mempelajari dan mengenal dari dekat cara kerja Tuhan. Dengan demikian penelitian alam semesta (jejak-jejak ilahi) akan mendorong kita untuk mengenal Tuhan dan menambah keyakinan terhadapnya. Fenomena alam bukanlah realitas-realitas independen melainkan tanda-tanda Allah SWT. Fenomena alam adalah ayat-ayat yang bersifat qauniyyah, sedangkan kitab suci ayat-ayat yang besifat qauliyah. Oleh karena itu ilmu-ilmu agama dan umum menempati posisi yang mulia sebagai obyek ilmu.

Filsafat Pendidikan Islam, Islam sebagai agama yang paling sempurna ia dipersiapkan untuk menjadi pedoman hidup sepanjang zaman atau hingga hari akhir. Islam tidak hanya mengatur cara mendapatkan kebahagiaan hidup di akhirat, ibadah dan penyerahan diri kepada Allah saja, melainkan juga mengatur cara mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia termasuk di dalamnya mengatur masalah pendidikan. Sumber untuk mengatur masalah pendidikan. Sumber untuk mengatur kehidupan dunia dan akhirat tersebut adalah al Qur’an dan al Sunnah. Sebagai sumber ajaran, al Qur’an sebagaimana telah dibuktikan oleh para peneliti ternyata menaruh perhatian yang besar terhadap masalah pendidikan dan pengajaran.

Demikian pula dengan al Hadist, sebagai sumber ajaran Islam, di akui memberikan perhatian yang amat besar terhadap masalah pendidikan. Nabi Muhammad SAW, telah mencanangkan program pendidikan seumur hidup ( long life education ). Dari uraian diatas, terlihat bahwa Islam sebagai agama yang ajaran-ajarannya bersumber pada al- Qur’an dan al Hadist sejak awal telah menancapkan revolusi di bidang pendidikan dan pengajaran. Langkah yang ditempuh al Qur’an ini ternyata amat strategis dalam upaya mengangkat martabat kehidupan manusia. Kini di akui dengan jelas bahwa pendidikan merupakan jembatan yang menyeberangkan orang dari keterbelakangan menuju kemajuan, dan dari kehinaan menuju kemuliaan, serta dari ketertindasan menjadi merdeka, dan seterusnya.

Konsep Filsafat pendidikan Islam

Konsep Filsafat Pendidikan Islam, “Islam” berarti  “Penyerahan diri kepada kehendak  Tuhan Yang Maha Esa” merupakan peringkat terakhir dan manifestasi yang paling sempuma dari Agama Allah disampaikan kepada manusia melalui “utusan-utusan” Allah  dari masa ke masa hingga kepada zaman Rasul  yang terakhir, yaitu Muhammad SAW. Islam bertujuan membimbing manusia kepada suatu cara hidup yang benar-benar memenuhi tuntutan-tuntutan insani yang ‘complex’ itu dari yang paling dasar  hinggaa  yang paling tinggi, dari yang bersifat kebendaan hinga  yang bersifat rohania, dari yang bersifat perseorangan kepada yang bersifat kolektif, supaya kesejahteraan dan selamat dalam arti yang sebenar-sebenamya dapat di nikmati oleh insan secara perseorangan dan juga secara bermasyarakat. Islam adalah suatu sistem kehidupan yang bersifat menyeluruh (all-ambracing) dan dalam hal ini istilah “agama”, sebagaimana yang difaham di Barat khusunya dan dikalangan orang-orang yang  berpendidikan modern, tidak dapat dipakai untuk memahami Islam tanpa merusakkan sifatnya. Agama (atau religion) biasanya ditfsirkan sebagai suatu sistem kepercayaan-kepercayaan dan ritus (“system of beliefs and rituals) yang merupakan urusan perseorangan yang sangat privat  sifatnya. Islam sebagaimana yang  ditentukan, yaitu syariah menuntun bukan saja hubungan manusia dengan Tuhan (hubungan vertikal), tetapi hubungan manusia dengan manusia (hubungan horizontal) yang menyangkut soal-soal kehidupan sosial, politik, ekonomi, budaya dan kesenian. Islam tidak mengakui adanya pertentangan, atau pemisahan menonjol, antara hidup kerohanian dan hidup keduniaan. la tidak membatasi dirinya semata-mata pada mensucikan kehidupan rohani dan kehidupan moral manusia dalam arti yang terbatas dari perkataan tersebut , Islam  memberikan ajaran-ajaran yang bertujuan merubah bukan saja kehidupan perseorangan manusia, tetapi juga susunan masyarakat manusia, kepada bentuk-bentuk yang sehat selaras dengan status manusia sebagai hamba Allah;, dengan fungsi manusia sebagai khalifah Allah di muka bumi yang harus memakmurkan dan memajukan alam ini sebagai suatu amanah kuddus (sacred trust); dan dengan tujuan hidup manusia, iaitu mencari keredaan Tuhan di dunia dan di akhirat. Dengan arti lain Islam adalah satu perutusan (message) Allah untuk semua umat manusia yang bersifat universal. Walau pun Islam bersifat universal, ia juga meletakkan syarat-syarat bagi bangkitnya dan terbentuknya sebuah “masyarakat” Islam atau “ummah” dengan andaian bahawa sepanjang sejarah manusia akan selalu ada masyarakat-masyarakat agama-agama lain yang berdampingan dengannya.

Ummah ini bermaksud untuk menjadi saksi terhadap pelaksanaan perutusan Tuhan  (Q.2: 143) terutama mengenai perlaksanaan ibadah dan amanah. Untuk mengatur umat dalam kehidupan sosial, al Quran dan Sunnah memberi peraturan-peraturan dan pedoman-pedoman yang disusun oleh ahli-ahli fiqah dan diberi nama “syariah” atau undang-undang Islam. Undang-undang ini disusun di bawah lima kategori besar:-

  1. Kepercayaan yang merangkumi enam rukun iman.
  2. Akhlak (adab) yang mengatur soal tatasusila  dan ketinggian moral.
  3. Peribadatan kepada Allah “ibadat” yang dirangkumi dalam rukun Islam yang lima.
  4. “Muammalat” yang berkaitan dengan tugas-tugas individu dalam masyarakat dan meliputi perjanjian, keamanan, perkongsian dalam perniagaan, kekeluargaan dan sebagainya.
  5. Hukuman “uqubat” yang berkenaan dengan pencurian, perzinaan, saksi palsu, tuduhan dan lain-Iain.

Jadi syariat itu luas sekali merangkumi soal-soal akidah dan akhlak tetapi sebahagian besar orang-orang Islam sendiri belum merialisasikan hal ini. Ada menganggap syariat itu merujuk kepada “Mahkamah Syariah” atau hanya kepada nikah kahwin, mati hidup  dan sebagainya

Dasar Pelaksanaan Filsafat Pendidikan Islam

Islam menganggap manusia awalnya  berada dalam keadaan “fitrah” yakni keadaan suci bersih terutama di segi keinsanan. Jadi tujuan pendidikan Islam ialah untuk  membantu manusia dalam melaksanakan kehidupannya sebagai khalifah dan hamba Tuhan atau dengan arti lain manusia diberi amanat untuk mengembangkan sifat Tuhan di muka bumi sehingga berjaya membentuk satu tamadun Ilahi yang ‘muqaddas’ yang berbeda daripada tamadun duniawi yang ‘profane’ yang ‘secular’ atau yang tidak diasaskan atas kehendak  Tuhan. Tamadun yang membawa manusia mengenali kebenaran dalam erti kata yang sebenarnya.

Dasar Pelaksanaan Filsafat Pendidikan Islam terutama adalah Al Qur’an dan al Hadist Firman Allah :

“ Dan demikian kami wahyukan kepadamu wahyu (al Qur’an) dengan perintah kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah iman itu, tetapi kami menjadikan al Qur’an itu cahaya yang kami kehendaki diantara hamba-hamba kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benarbenar memberi petunjuk kepada jalan yang benar (QS.Asy-Syura: 52)”

Dan Hadis dari Nabi SAW :

“ Sesungguhnya orang mu’min yang paling dicintai oleh Allah ialah orang yang senantiasa tegak taat kepada-Nya dan memberikan nasihat kepada hamba-Nya, sempurna akal pikirannya, serta mengamalkan ajaran-Nya selama hayatnya, maka beruntung dan memperoleh kemenangan ia” (al Ghazali, Ihya Ulumuddin hal. 90)”

Dari ayat dan hadis di atas tadi dapat diambil kesimpulan :

  1. Bahwa al Qur’an diturunkan kepada umat manusia untuk memberi petunjuk kearah jalan hidup yang lurus dalam arti memberi bimbingan dan petunjuk kearah jalan yang diridloi Allah SWT.
  2. Menurut Hadist Nabi, bahwa diantara sifat orang mukmin ialah saling menasihati untuk mengamalkan ajaran Allah, yang dapat diformulasikan sebagai usaha atau dalam bentuk pendidikan Islam.
  3. Al Qur’an dan Hadist tersebut menerangkan bahwa nabi adalah benar-benar pemberi petunjuk kepada jalan yang lurus, sehingga beliau memerintahkan kepada umatnya agar saling memberi petunjuk, memberikan bimbingan, penyuluhan, dan pendidikan Islam.

Konsep Filsafat Pendidikan Islam, Bagi umat Islam maka dasarnya agama Islam merupakan fondasi utama keharusan berlangsungnya pendidikan. Karena ajaran Islam bersifat universal yang kandungannya sudah tercakup seluruh aspek kehidupan ini. Pendidikan dalam arti umum mencakup segala usaha dan perbuatan dari generasi tua untuk mengalihkan pengalamannya, pengetahuannya, kecakapannya, serta keterampilannya kepada generasi muda untuk memungkinkannya melakukan fungsi hidupnya dalam pergaulan bersama, dengan sebaik-baiknya.

Dalam Filsafat Pendidikan Islam, mendidik anak didik adalah merupakan amalan di dunia yang akan dipetik hasilnya di akhirat nanti. Artinya pendidikan Islam menyiapkan generasi muda untuk mengisi peranan, menuntut ilmu pengetahuan, dan memindahkan nilai-nilai yang diselaraskan dan diwarnai Imam, Islam dan ihsan. tujuan inilah yang membedakan filsafat pendidikan umum lainnya dengan filsafat pendidikan Islam

Pengertian Asuhan Keperawatan Dan Standar Praktek Keperawatan

asuhan keperawatan

asuhan keperawatan

Asuhan Keperawatan mempunyai sejarah pelayanan yang membanggakan bagi publik dan publik percaya akan keahlian perawat untuk memberikan asuhan keperawatan profesional. Tapi jika praktik tersebut tidak diproteksi, kepercayaan tersebut akan luntur.

Bagaimana perawat sebagai suatu profesi dapat mempertahankan dan meningkatkan mutu asuhan keperawatan? Salah satu jawaban atas pertanyaan ini adalah adanya standar.

Standar mencerminkan visi untuk praktik profesional. Standar asuhan keperawatan tidak hanya merupakan identifikasi tugas-tugas atau langkah-langkah atau saran yang harus dilaksanakan oleh profesi keperawatan. Ia tidak dapat di salin dari buku dan dapat diterapkan oleh semua organisasi, kelompok perawat atau populasi pasien.

Standar adalah kata-kata yang kita gunakan untuk menggambarkan fokus keperawatan profesional dalam setting tertentu. Ia mencerminkan kebutuhan yang unik dari sekelompok pasien dan percerminan kemampuan dan sumber daya staf profesional.

Standar Asuhan Keperawatan menyajikan kriteria di mana praktek semua perawat (registered nurse) akan di ukur oleh, publik, klien, employer, kolega, anda perawat itu sendiri. Selain itu pada asuhan keperawatan ditekankan tujuan utama dari sebuah profesi adalah untuk meningkatkan dan mempertahankan praktik para anggotanya dan pada saat yang sama memperluas basis pengetahuanya yang terpisah dan berbeda dari profesi lain. Profesi keperawatan juga mempunyai sasaran yaitu berjalannya praktik keperawatan yang tepat dan aman yang di atur sendiri oleh perawat untuk kepentingan publik dan dicapai dengan mempertahankan praktek yang baik, mencengah praktek yang buruk, dan melakukan intervensi bila praktik tidak diterima.

Pengertian Standar Praktik Asuhan Keperawatan

Pada standar Asuhan keperawatan dibangun dari pengertian yakni: Standar adalah level kinerja (performance) yang diinginkan dan dapat dicapai dimana kinerja aktual dapat dibandingkan. Ia memberikan petunjuk kinerja mana yang tidak cocok atau tidak dapat diterima. Standar praktek keperawatan adalah pernyataan tentang apa yang dibutuhkan oleh pasien untuk dijalankan sebagai profesional keperawatan. Secara umum, standar asuhan keperawatan ini mencerminkan nilai profesi keperawatan dan memperjelas apa yang diharapkan profesi keperawatan dari para anggotanya.

Menurut Hoffart: Definisi Model Asuhan Keperawatan Profesional adalah sebagai suatu sistem (struktur, proses dan nilai- nilai) yang memungkinkan perawat profesional mengatur pemberian asuhan keperawatan termasuk lingkungan untuk menopang pemberian asuhan tersebut (Hoffart & Woods, 1996).

Standar adalah nilai atau acuan yang menentukan level praktik terhadap staf atau suatu kondisi pada pasien atau sistem yang telah ditetapkan untuk dapat diterima sampai Pada wewenang tertentu (schroeder, 1991). Ada beberapa komponen dari definisi ini. Sebuah standar harus tertulis dan harus mencerminkan sistem nilai yang konsisten dan digambarkan secara jelas. Sebuah standar Asuhan keperawatan diharuskan secara komprehensif menguraikan semua aspek profesionalisme, termasuk sistem, praktisi, dan pasien. Standar harus jelas, ringkas, non ambigu dalam penfsirannya, dan tepat dalam mengarahkan. Sebuah standar harus dilegitimasi melalui proses autorisasi yang tepat oleh staf, hierarki keperawatan, staf medis, dan kepala departemen, dan stuktur komite.

Mengapa harus ada standar Asuhan Keperawatan

Standar Asuhan Keperawatan diperlukan untuk meningkatkan, menuntun, dan mengarahkan praktek keperawatan profesional. Praktek keperawatan didefinisikan sebagai “kinerja dari pelayanan kesehatan yang memerlukan penerapan pengetahuan dan keterampilan keperawatan profesional yang meliputi:

  1. meningkatkan, mempertahankan, dan mengembalikan kesehatan publik
  2. mengajarkan teori atau praktek keperawatan
  3. melakukan konseling terhadap pasien dalam rangka perawatan kesehatan
  4. mengkoordinasikan pelayanan kesehatan
  5. terbitan dalam administrasi,edukasi,konsultasi, pengajaran atau penelitian

Tujuan penting lainnya mencakup proteksi terhadap publik, pengaturan praktek perawat, pemberian ijin institusi pendidikan keperawatan, pembuatan pedoman

administratif, menafsirkan harapan publik dan profesional pelayanan kesehatan lainnya terhadap praktek perawat dan acuan legal untuk praktek yang layak.

Filosofi dan prinsip yang mendasari standar Asuhan Keperawatan

Sebagai Seorang perawat percaya bahwa;

  • pengetahuan (knoweledge) yang digunakan untuk menuntun praktek keperawatan adalah berasal dari penelitian kualitatif dan kuantitatif dan dan pengalaman dari perawat.
  • kesehatan adalah sejauh mana individu atau kelompok dapat menyadari aspirasi, memenuhi kebutuhan, dan mengubah atau menyesuaikan dari terhadap lingkungan.Kesehatan merupakan inti dari kehidupan keseharian manusia, bukan hanya sebagai objek kehidupan.
  • Pelayanan kesehatan mempunyai arti lebih dari sekedar melakukan intervensi bila seorang sakit, tetapi mencengah terjadinya sakit dan meningkatkan derajat kesehatan, mencapai kesehatan untuk semua.
  • Promosi kesehatan adalah proses memberdayakan individu untuk meningkatkan kendali atas dirinya dan meningkatkan derajat kesehatan mereka sendiri.
  • Hubungan terapeutik yang terjalin antara perawat dan klien yang menerima pelayan keperawatan didasarkan pada kesadaran bahwa individu mampu mengambil keputusan atas hidup mereka sendiri oleh karena itu merupakan mitra dalam proses pengambilan keputusan. Caling, melekat dalam hubungan terapeutik perawat klien, dibangun atas dasar saling percaya (trust), respek, intimasi dan kebutuhan untuk memahami dan bertindak sesuai masalah yang dirasakan oleh pasien.

Dasar Pembuatan Standar Asuhan Keperawatan

Standar praktik keperawatan dilandasi oleh sifat suatu profesi yaitu:

  1. Profesional bertanggung jawab dan bertanggung gugat kepada publik terhadap kerja mereka
  2. praktek profesional di dasarkan atas body of knowledge yang spesifik
  3. profesional yang kompeten menerapkan pengetahuannya
  4. profesional terikat oleh kode etik
  5. sebuah profesi menyediakan pelayanan kepada publik
  6. sebuah profesi mengatur dirinya sendiri

Tipe Standar Asuhan Keperawatan

Dua kategori standar Asuhan keperawatan yang diterima secara luas adalah standar asuhan (standar of care) atau pertanyaan yang menguraikan level asuhan yang akan diterima oleh pasien, dan standar praktek. (standar of practice) atau harapan terhadap kinerja perawat dalam memberikan standar asuhan . Aktifitas pemantauan dan evaluasi memastikan bahwa level perawatan pasien dan kinerja perawat telah dicapai dengan baik. Dua macam kinerja ini di rancang untuk mendukung Perawat dalam praktek sehari-hari dengan menyediakan suatu struktur untuk praktik tersebut dan untuk membantu perawat dalam mengidentifikasi kontribusi keperawatan dalam:

  • perawatan pasien.
  • Standar Praktek

Standar praktek meliputi kebijakan (police), uraian tugas (job description), dan standar kinerja (performance standar). Ia menuntun perawat dalam melaksanakan perawatan pasien. Ia juga menetapkan level kinerja yang perlu diperhatikan oleh perawat untuk memastikan bahwa standar asuhan akan dicapai dan dan menggambarkan definisi institusi tentang apa yang dapat dilakukan oleh perawat. Kebijakan menetapkan sumber-sumber atau kondisi yang harus tersedia untuk memfasilitasi pemberian asuhan.

Uraian tugas mencerminkan kompetensi, pendidikan, dan pengalaman yang di perlukan bagi semua staf yang memiliki peran atau posisi sebagai perawat. Sedangkan standar kinerja diturunkan dari uraian tugas dan menyediakan ukuran untuk mengevaluasi level perilaku perawat yang didasarkan atas pengetahuan, keterampilan, dan pencapaian aktifitas kemajuan profesional.

Standar Asuhan

Standar asuhan Keperawatan meliputi prosedur, standar asuhan genetik, dan rencana asuhan (care plans). Mereka merupakan alat untuk memastikan perawatan Pasien yang aman dan memastikan hasil yang berasal dari Pasien ini. Prosedur adalah uraian tahap pertahap tentang bagaimana melakukan keterampilan psikomotor dan bersifat orientasi tugas. Protokol meliputi lima kategori utama.

Manajemen pasien dengan peralatan invasi, manajemen pasien dengan peralatan non invatif; manajemen status fisiologis dan psikologis; dan diagnosa Keperawatan tertentu. Standar asuhan keperawatan dalam hal standar asuhan genetik menguraikan harapan asuhan minimal yang disediakan bagi semua pasien dimamanapun pasien dirawat. Hubungan diagnosa medis pasien dan diagnosa Keperawatan pasien dijadikan acuan dalam merencanakan Asuhan keperawatan.

Be the first to comment

Pengertian Keperawatan, Profesi Keprawatan & Aspek Legal Keperawatan

aspek legal keperawatan

Author: Zulhikm El Said

Aspek Legal Keperawatan adalah Aspek aturan Keperawatan dalam memberikan asuhan keperawatan sesuai lingkup wewenang dan tanggung jawabnya pada berbagai tatanan pelayanan, termasuk hak dan kewajibannya yang diatur dalam undang-undang keperawatan.

Keperawatan adalah suatu bentuk pelayanan profesional yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan, didasarkan pada ilmu dan kiat keperawatan ditujukan kepada individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat baik sehat maupun sakit yang mencakup seluruh proses kehidupan manusia.

Perawat sebagai profesi dan bagian integral dari pelayanan kesehatan tidak saja membutuhkan kesabaran. Kemampuannya untuk ikut mengatasi masalah-masalah kesehatan tentu harus juga bisa diandalkan.

Untuk mewujudkan keperawatan sebagai profesi yang utuh, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi. Setiap perawat harus mempunyai ”body of knowledge” yang spesifik, memberikan pelayanan kepada masyarakat melalui praktik keprofesian yang didasari motivasi altruistik, mempunyai standar kompetensi dan kode etik profesi. Para praktisi dipersiapkan melalui pendidikan khusus pada jenjang pendidikan tinggi.

International Council of Nurses (ICN) mengeluarkan kerangka kerja kompetensi bagi perawat yang mencakup tiga bidang, yaitu bidang Professional, Ethical and Legal Practice, bidang Care Provision and Management dan bidang Professional Development

Setiap profesi pada dasarnya memiliki tiga syarat utama, yaitu kompetensi yang diperoleh melalui pelatihan yang ekstensif, komponen intelektual yang bermakna dalam melakukan tugasnya, dan memberikan pelayanan yang penting kepada masyarakat. (Budi Sampurna, Pakar Hukum Kesehatan UI 2006)

Sikap yang terlihat pada profesionalisme adalah profesional yang memiliki etika dan bertanggung jawab dalam arti sikap dan pelaku yang akuntabel kepada masyarakat, baik masyarakat profesi maupun masyarakat luas. Beberapa ciri profesionalisme tersebut merupakan ciri profesi itu sendiri, seperti kompetensi dan kewenangan yang selalu sesuai dengan tempat dan waktu, sikap yang etis sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh profesinya dan khusus untuk profesi kesehatan ditambah dengan sikap altruis (rela berkorban). Kemampuan atau kompetensi, diperoleh seorang profesional dari pendidikan atau pelatihannya, sedangkan kewenangan diperoleh dari penguasa atau pemegang otoritas di bidang tersebut melalui pemberian izin.

Aspek legal profesi Keperawatan meliputi Kewenangan berkaitan dengan izin melaksanakan praktik profesi. Kewenangan memiliki dua aspek, yakni kewenangan material dan kewenangan formal. Kewenangan material diperoleh sejak seseorang memiliki kompetensi dan kemudian teregistrasi (registered nurse) yang disebut Surat Ijin Perawat atau SIP.

Landasan Aspek Legal Keperawatan Adalah Undang-Undang Keperawatan

Aspek legal Keperawatan pada kewenangan formalnya adalah izin yang memberikan kewenangan kepada penerimanya untuk melakukan praktik profesi perawat yaitu Surat Ijin Kerja (SIK) bila bekerja di dalam suatu institusi dan Surat Ijin Praktik Perawat (SIPP) bila bekerja secara perorangan atau berkelompok.

Kewenangan itu, hanya diberikan kepada mereka yang memiliki kemampuan. Namun, memiliki kemampuan tidak berarti memiliki kewenangan. Seperti juga kemampuan yang didapat secara berjenjang, kewenangan yang diberikan juga berjenjang.

Kompetensi dalam keperawatan berarti kemampuan khusus perawat dalam bidang tertentu yang memiliki tingkat minimal yang harus dilampaui.

Dalam profesi kesehatan hanya kewenangan yang bersifat umum saja yang diatur oleh Departemen Kesehatan sebagai penguasa segala keprofesian di bidang kesehatan dan kedokteran. Sementara itu, kewenangan yang bersifat khusus dalam arti tindakan kedokteran atau kesehatan tertentu diserahkan kepada profesi masing-masing.

Fungsi Hukum dalm Praktik Perawat

  • Memberikan kerangka untuk menentukan tindakan keperawatan mana yang sesuai dengan hukum
  • Membedakan tanggung jawab perawat dengan profesi lain
  • Membantu menentukan batas-batas kewenangan tindakan keperawatan mandiri
  • Membantu mempertahankan standard praktik keperawatan dengan meletakkan posisi perawat memiliki akuntabilitas dibawah hukum.

Pasal krusial dalam Kepmenkes 1239/2001 Tentang Praktik Keperawatan

  1. Melakukan asuhan keperawatan meliputi Pengkajian, penetapan diagnosa keperawatan, perencanaan, melaksanakan tindakan dan evaluasi.
  2. Pelayanan tindakan medik hanya dapat dilakukan atas permintaan tertulis dokter
  3. Dalam melaksanakan kewenangan perawat berkewajiban :
    • Menghormati hak pasien
    • Merujuk kasus yang tidak dapat ditangani
    • Menyimpan rahasia sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku
    • Memberikan informasi
    • Meminta persetujuan tindakan yang dilakukan
    • Melakukan catatan perawatan dengan baik

Aspek legal keperawatan meliputi :

  1. Memberikan kerangka untuk menentukan tindakan keperawatan mana yang sesuai dengan hukum
  2. Membedakan tanggung jawab perawat dengan profesi lain
  3. Membantu menentukan batas-batas kewenangan tindakan keperawatan mandiri
  4. Membantu mempertahankan standard praktik keperawatan dengan meletakkan posisi perawat memiliki akuntabilitas dibawah hukum.
  5. Dalam keadaan darurat yang mengancam jiwa seseorang , perawat berwenang melakukan pelayanan kesehatan di luar kewenangan yang ditujukan untuk penyelamatan jiwa.
  6. Perawat yang menjalankan praktik perorangan harus mencantumkan SIPP di ruang praktiknya
  7. Perawat yang memiliki SIPP dapat melakukan asuhan dalam bentuk kunjungan rumah
  8. Persyaratan praktik perorangan sekurang-kurangnya memenuhi :
    • Tempat praktik memenuhi syarat
    • Memiliki perlengkapan peralatan dan administrasi termasuk formulir /buku kunjungan, catatan tindakan dan formulir rujukan

Larangan

  1. Perawat dilarang menjalankan praktik selain yang tercantum dalam izin dan melakukan perbuatan yang bertentangan dengan standar profesi
  2. Bagi perawat yang memberikan pertolongan dalam keadaan darurat atau menjalankan tugas didaerah terpencil yang tidak ada tenaga kesehatan lain, dikecualikan dari larangan ini
  3. Kepala dinas atau organisasi profesi dapat memberikan peringatan lisan atau tertulis kepada perawat yang melakukan pelanggaran
  4. Peringatan tertulis diberikan paling banyak 3 kali, apabila tidak diindahkan SIK dan SIPP dapat dicabut.
  5. Sebelum SIK atau SIPP di cabut kepala dinas kesehatan terlebih dahulu mendengar pertimbangan dari MDTK atau MP2EM

Sanksi

  1. Pelanggaran ringan , pencabutan izin selama-lamanya 3 bulan
  2. Pelanggaran sedang , pencabutan izin selama-lamanya 6 bulan
  3. Pelanggaran berat, pencabutan izin selama-lamanya 1 tahun
  4. Penetapan pelanggaran didasarkan pada motif pelanggaran serta situasi setempat
  5. Hak dan Kewajiban Perawat

Aspek Legal Keperawatan juga meliputu Kewajiban dan hak Perawat :

Kewajiban:

  1. Wajib memiliki : SIP, SIK, SIPP
  2. Menghormati hak pasien
  3. Merujuk kasus yang tidak dapat ditangani
  4. Menyimpan rahasia pasien sesuai dengan aturan undang-undang keperawatan
  5. Wajib memberikan informasi kepada pasien sesuai dengan kewenangan
  6. Meminta persetujuan setiap tindakan yg akan dilakukan perawat sesuai dgn kondisi pasien baik secara tertulis maupun lisan
  7. Mencatat semua tindakan keperawatan secara akurat sesuai peraturan dan SOP yang berlaku
  8. Memakai standar profesi dan kode etik perawat Indonesia dalam melaksanakan praktik
  9. Meningkatkan pengetahuan berdasarkan IPTEK
  10. Melakukan pertolongan darurat yang mengancam jiwa sesuai dengan kewenangan
  11. Melaksanakan program pemerintah dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat
  12. Mentaati semua peraturan perundang-undangan
  13. Menjaga hubungan kerja yang baik antara sesama perawat maupun dgn anggota tim kesehatan lainnya.

Hak-Hak Perawat

  1. Hak perlindungan wanita.
  2. Hak mengendalikan praktik keperawatan sesuai yang diatur oleh hukum.
  3. Hak mendapat upah yang layak.
  4. Hak bekerja di lingkungan yang baik
  5. Hak terhadap pengembangan profesional.
  6. Hak menyusun standar praktik dan pendidikan keperawatan.

Dalam Aspek legal Keperawatan yang perlu diperhatikan dan harus dihindarinya adalah:

a. Kelalaian

Seorang perawat bersalah karena kelalaian jika mencederai pasien dengan cara tidak melakukan pekerjaan sesuai dengan yang diharapkan ataupun tidak melakukan tugas dengan hati-hati sehingga mengakibatkan pasien jatuh dan cedera.

b. Pencurian

Mengambil sesuatu yang bukan milik anda membuat anda bersalah karena mencuri. Jika anda tertangkap, anda akan dihukum. Mengambil barang yangtidak berharga sekalipun dapat dianggap sebagai pencurian.

c. Fitnah

Jika anda membuat pernyataan palsu tentang seseorang dan merugikan orang tersebut, anda bersalah karena melakukan fitnah. Hal ini benar jika anda menyatakan secara verbal atau tertulis.

d. False imprisonment

Menahan tindakan seseorang tanpa otorisasi yang tepat merupakan pelanggaran hukum atau false imprisonment. Menggunakan restrein fisik atau bahkan mengancam akan melakukannya agar pasien mau bekerja sama bisa juga termasuk dalam false imprisonment. Penyokong dan restrein harus digunakan sesuai dengan perintah dokter.

e. Penyerangan dan pemukulan

Penyerangan artinya dengan sengaja berusahan untuk menyentuh tubuh orang lain atau bahkan mengancam untuk melakukannya. Pemukulan berarti secara nyata menyentuh orang lain tanpa ijin.Perawatan yang kita berikan selalu atas ijin pasien atau informed consent. Ini berarti pasien harus mengetahui dan menyetujui apa yang kita rencanakan dan kita lakukan.

f. Pelanggaran privasi

Pasien mempunyai hak atas kerahasiaan dirinya dan urusan pribadinya. Pelanggaran terhadap kerahasiaan adalah pelanggaran privasi dan itu adalah tindakan yang melawan hukum.

g. Penganiayaan

Menganiaya pasien melanggar prinsip-prinsip etik dan membuat anda terikat secara hukum untuk menanggung tuntutan hukum. Standar etik meminta perawat untuk tidak melakukan sesuatu yang membahayakan pasien.

Setiap orang dapat dianiaya, tetapi hanya orang tua dan anak-anaklah yang paling rentan. Biasanya, pemberi layanan atau keluargalah yang bertanggung jawab terhadap penganiayaan ini. Mungkin sulit dimengerti mengapa seseorang menganiaya ornag lain yang lemah atau rapuh, tetapi hal ini terjadi. Beberapa orang merasa puas bisa mengendalikan orang lain. Tetapi hampir semua penganiayaan berawal dari perasaan frustasi dan kelelahan dan sebagai seorang perawat perlu menjaga keamanan dan keselamatan pasiennya.

Sebagai seorang perawat yang profesional, harus memperhatikan Etika Profesi dan Tanggung Jawab Profesi sebagai bagian dari Aspek Legal Keperawatan agar tidak keluar dari rambu-rambu aturan dari profesi keperawatan. demikian artikel ini untuk dijadikan tambahan informasi masalah seputar Aspek Legal Keperawatan.

2 Comments so far. Join the Conversation