Filsafat Agama Dan Filsafat Keagamaan – Teologi

filsafat agama dan teologi

Author: Zulhikam El Said

Filsafat agama adalah sebuah subjek paling multifaset yang sangat luas dan mendalam. Pada Blog Jaringan Komputer dan Ilmu Pengetahuan ini saya mencoba berbagi beberapa wawasan tentang hubungan filsafat dan agama dan hubungan antara keduanya pada Artikel ini  yang berjudul Filsafat Agama Dan Teologi.

Filsafat Agama dan Teologi Sebagai Kajian Studi

Para Ilmuwan Barat tidak menemukan kata sepakat dalam memberikan definisi agama, masing-masing pandangan merekan mendefinisikan agama dari sudut yang berbeda. Hal inilah yang  menyebabkan pemahaman mereka terhadap agama sangat minim. Dalam Encyclopedia of Philosophy, philosof-philosof terkenal memberikan definisi keduanya, ada yang mengatakan agama itu tidak lebih dari konsep moralitas / akhlak, ada juga yang mengatakan agama itu sesuatu yang menyentuh hal-hal ruhaniyyah atau spiritual saja, ada pula yang mendefinisikan agama dengan ritual atau upacara penyembahan.
Jadi dari sini kita dapat melihat perspektif duni Barat yang sempit mengenai agama. Meskipun penilaian mereka itu berdasarkan realitas sebagian agama yang ada di dunia ini.
Tak mengherankan bila agama menurut pandangannya harus dipisahkan dengan kehidupan nyata, agama tidak bisa mencampuri hal politik, sosial dan ekonomi. Agama hanya berhubungan dengan tempat ritual yang dikunjungi seminggu sekali dan hari-hari raya tertentu.

filsafat agama dan teologi

filsafat agama dan teologi

Padahal kita tahu agama adalah bagian yang amat penting pada kehidupan seseorang. Pada sebagian orang, memandang  agama  adalah kehidupannya yang tidak terpisahkan. Sebagian besar kekayaan budaya  di seluruh dunia ini memiliki akar pada tiap-tiap agama. Dalam istilan sederhana, agama hanyalah cara hidup, filsafat agama adalah tentang belajar hidup. Filsafat agama termasuk studi filosofis mengenai doktrin-doktrin keagamaan, Kitab-Suci keagamaan, cerita agama, keyakinan agama dan praktek, sejarah agama, dan argumen agama, dsb yang menentukan dan mempengaruhi pola hidup.

Studi filosofis dilakukan secara beralasan dan disiplin di mana setiap aspek agama diuji untuk kebenarannya. Filsafat agama adalah  penggunaan akal pada pencarian kebenaran untuk memahami justifikasi  iman kepada Tuhan dan agama.

filsafat Agama dan Filsafat Keagamaan (Teologi)

Filsafat agama pada dasarnya studi metafisik yang dilakukan untuk memahami konsep Ketuhanan. Hal ini termasuk mempelajari dan menganalisa berbagai argumen bahwa orang telah menawarkan suatu kepercayaan untuk membenarkan dan percaya kepada Tuhan. Banyak orang bingung mengenai definisi filsafat agama dengan filsafat keagamaan  atau teologi. Teologi defensif di alam dan berkomitmen untuk mempertahankan keyakinan agama tertentu, memiliki keyakinan pada setiap aspek agama tersebut. Padahal, filsafat agama adalah penyelidikan ilmiah mengenai agama. Sebagai contoh, teologi menganggap Kitab-Suci agama sebagai aturan tertinggi dan berwibawa tetapi dalam filsafat agama, Kitab Suci adalah sebuah obyek studi dan penelitian dan memiliki tujuan utama  untuk mengamati klaim agama dan untuk membangun penjelasan yang rasional, jika ada.

Dibawah ini adalah beberapa pertanyaan yang masuk pada wilayah filasafat agama.

  • Tuhan: mitos atau realitas?
  • Argumen pada gender Tuhan: Tuhan seperti apa?
  • Apakah  Tuhan sama seperti manusia?
  • Siapa yang menciptakan dunia ini?
  • Apakah keyakinan agama masuk akal?
  • Apakah tujuan dari agama-agama dunia?
  • Apakah bahasa agama dan pengalaman agama?
  • Berapakah nilai dari keyakinan agama, iman dan prakteknya?
  • Mengapa memuji Tuhan?
  • Seberapa besar Tuhan?
  • Apakah keJahatan bagian dari Tuhan?
  • Mengapa ada kejahatan?
  • Di mana Tuhan ketika aku menderita?
  • Tuhan dapat mengampuni segala sesuatu?
  • Apakah tuhan ada didalam hati anda?
  • Perspektif tentang filsafat agama

Filsafat agama dapat dipelajari dari perspektif yang berbeda oleh orang yang berbeda. Sebagai contoh, filsafat ateis tentang agama berbeda dari teis filsafat. ateis tidak percaya pada Tuhan, mereka tidak percaya bahwa agama diciptakan oleh Tuhan. Mereka belajar agama sebagai fenomena yang dibuat oleh manusia. Mereka cenderung lebih berfokus pada agama sebagai sistem kepercayaan buatan manusia dan mempelajari etika, prinsip-prinsip, moral, dan identitas agama tertentu dan orang-orang yang mengikutinya. Mereka sering mengabaikan peran agama, agama seperti apa?, dan bagaimana agama masuk akal, dll. Tapi, seorang ateis tidak menghakimi, tidak memihak, dan yang peduli tentang filsafat dan agama dapat saja belajar filsafat agama dengan baik.

Teis cenderung untuk mempelajari agama seperti itu. Pada kenyataannya, perspektif teis pada agama tidak dapat diciptakan sebagai filsafat keagamaan, seperti yang disebutkan sebelumnya, filsafat keagamaan mengagungkan agama tertentu. Menurut teisme, Tuhan ada dan karena itu dunia diciptakan oleh Tuhan dan setiap manusia lahir untuk satu tujuan. Cenderung untuk membatasi kebebasan manusia tetapi pada saat yang sama pula menegaskan nilai-nilai kita. Teis tidak setuju dengan perspektif ateis. karena jika orang telah diciptakan dari debu dan akan kembali ke tanah. Mencoba untuk mengetahui hubungan antara agama dan alasannya adalah Inti dari filsafat agama.