Filsafat Agama, Hubungan & Perbedaan Antara Filsafat Dan Agama

Filsafat dan Agama sering dianggap suatu hal yang bertentangan. Konflik pemikiran ini seringkali muncul pada orang yang cenderung berfikir filosofis dengan orang yang berfikir agamis, pada hal filsafat dan agama memiliki tujuan yang sama  untuk kemajuan, dan keduanya tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia. Di blog Jaringan Komputer dan Ilmu pengetahuan. Mari kita menelusuri lebih jauh pengertian filsafat, agama dan hubungan dan perbedaan Filsafat Vs Agama.

Pengertian Filsafat dan Agama dan Perbedaannya

perbedaan filsafat dan agama

hubungan filsafat dan agama

Untuk menyusuri seluk-beluk filsafat dan agama  ke akar-akarnya perlu diketahui terlebih dahulu memahami definisi agama dan filsafat  itu. Istilah filsafat dan agama adalah suatu hal yang berlawanan pada pemikiran kebanyakan orang. Filsafat berlandaskan pada akal, sedangkan agama berlandaskan wahyu. Oleh karena itu, agama banyak dikaitkan dengan pengalaman seseorang. Filsafat membahas suatu kebenaran dengan parameter yang dapat diukur, apakah sesuatu itu logis atau tidak logis. Sedangkan agama tidak harus mengukur kebenaran dari segi logisnya karena agama seringkali tidak  memperhatikan aspek logisnya.

Pengertian Filsafat.

Istilah “filsafat” dapat ditinjau dari dua segi, yakni:
a. Segi semantik:
berasal dari bahasa Arab ‘falsafah’, yang berasal dari bahasa Yunani, ‘philosophia’, yang berarti ‘philos’ = cinta, suka (loving), dan ‘sophia’ = pengetahuan, hikmah (wisdom). Jadi’philosophia ‘berarti cinta kepada kebijaksanaan atau cinta kepada kebenaran. Maksudnya, setiap orang yang berfilsafat akan menjadi bijaksana. Orang yang cinta kepada pengetahuan disebut ‘philosopher’, dalam bahasa Arabnya ‘filosof “. Pecinta pengetahuan adalah orang yang menjadikan pengetahuan sebagai tujuanhidupnya, atau kata lain, mengabdikan dirinya kepada pengetahuan.

b. Segi praktis:
dilihat dari pengertian praktisnya, filsafat berarti ‘alam pikiran’ atau ‘alam berpikir’. Berfilsafat artinya berpikir. Namun tidak semua berpikir berarti berfilsafat. Berfilsafat adalah berpikir secara mendalam dan sungguh-sungguh. Sebuah slogan mengatakan bahwa “setiap manusia adalah filsuf”. Slogan ini benar juga, sebab semua manusia berpikir. Akan tetapi secara umum ia jadi tidak benar, sebab tidak semua manusia yang berpikir adalah filsuf. Filsuf hanyalah orang yang memikirkan hakikat segala sesuatu dengan sungguh-sungguh dan mendalam. Tegasnya: Filsafat adalah hasil akal seorang manusia yang mencari dan memikirkan suatu kebenaran dengan sedalam-dalamnya. Dengan kata lain: filsafah adalah ilmu yang mempelajari dengan sungguh-sungguh hakikat kebenaran segala sesuatu.

Pengertian Agama

Istilah “agama” berasal dari bahasa sansekerta: “a”  berarti tidak dan “gam” berarti pergi, tetap di tempat, diwarisi turun temurun dalam kehidupan manusia. Kenyataannya agama memang memiliki sifat seperti itu. Agama, bagi orang-orang dijadikan pola hidup manusia. Dick Hartoko menyebut agama itu dengan religi, yaitu ilmu yang meneliti hubungan antara manusia dengan “Yang Kudus” dan hubungan itu direalisasikan dalam ibadat-ibadat. Kata religi berasal dari bahasa Latin rele-gere yang bermakna mengumpulkan, membaca. Agama secara esensial merupakan kumpulan cara-cara pengabdian kepada Tuhan dan semua cara itu terangkum dalam kitab suci agama yang diimaninya. Di lain sisi istilah religi berasal dari religare yang berarti mengikat. Ajaran-ajaan agama memang memiliki sifat mengikat bagi pemeluknya. Seorang pemeluk agama tetap terikat dengan aturan-aturan, norma-norma dan hukum-hukum  yang telah ditetapkan oleh agama

Dalam perspektif ilmu, filsafat dan agama merupakan dua pendekatan mendasar menuju pada kebenaran. Apa yang ingin dibedakan dengan jelas di sini bukan filsafat, yang dipahami sebagai sistem rasional pemahaman (inteleksi) dan wahyu yang dirumuskan secara bebas; dan agama, yang dipahami sebagai tradisi wahyu secara total. Ini sangat jelas tampak dari kata dan Al-Farabi tentang  filsafat dan agama. Istilah yang digunakannya untuk menyatakan perbedaan agama dari filsafat adalah millah; bukan din. Ini menunjukkan kehendak Al-Farabi membedakan filsafat secara kontras tidak dengan tradisi wahyu dalam totalitasnya, melainkan dengan dimensi eksoterik tradisi wahyu. Karena itu, dia lebih suka menggunakan istilah millah dari din. Millah lebih tepat karena dia mengacu pada komunitas religius di bawah sanksi ilahi dengan seperangkat kepercayaan dan undang-undang atau perintah-perintah hukum moral yang didasarkan pada wahyu. Dimensi eksternal dari tradisi wahyu harus diidentifikasi dengan kepercayaan-kepercayaan dan praktik-praktik komunitas religius ini

Dalam Tahshîl al-sa’âfidah AI-Farabi secara terang-terangan menyatakan pandangannya perbedaan filsafat dan agama dari segi sifatnya serta hubungan antara keduanya:
Ketika seseorang memperoleh pengetahuan tentang wujud atau memetik pelajaran darinya, jika dia memahami sendiri gagasan-gagasan tentang wujud itu dengan intelektualnya, dan pembenarannya atas gagasan tersebut dilakukan dengan bantuan demonstrasi tertentu, maka ilmu yang tersusun dari pengetahuan-pengetahuan ini disebut filsafat. Tetapi jika gagasan -gagasan itu diketahui dengan membayangkannya lewat kemiripan-kemiripan yang merupakan tiruan dari mereka, dan pembenaran terhadap apa yang dibayangkan pada mereka karena metode-metode persuasif, maka orang-orang terdahulu menyebut sesuatu yang membentuk pengetahan-pengetahuan ini agama. Jika pengetahuan-pegetahuan itu sendiri diadopsi, dan metode-metode persuasif digunakan, maka agama yang mengambil mereka disebut filsafat populer, yang diterima secara umum, dan bersifat eksternal.
Al-Farabi menghidupkan kembali klaim kuno yang menyatakan bahwa agama adalah tiruan dari filsafat. Menurutnya, baik agama maupun filsafat berhubungan dengan realitas yang sama. Keduanya terdiri dari subjek-subjek yang serupa dan sama-sama melaporkan prinsip-prinsip wujud tertinggi  (yaitu, esensi Prinsip Pertama dan esensi dari prinsip-prinsip kedua nonfisik). Keduanya juga melaporkan tujuan puncak yang diciptakan demi manusia yaitu, kebahagiaan tertinggi dan tujuan puncak dari wujud-wujud lain. Tetapi, dikatakan Al-Farabi, perbedaan filsafat dan agama yaitu filsafat memberikan laporan berdasarkan persepsi intelektual. Sedangkan agama menampilkan laporannya berdasarkan imajinasi. Dalam setiap hal yang didemonstrasikan oleh filsafat, agama memakai metode-metode persuasif untuk menjelaskannya.

Perbedaan Filsafat Dan agama

Dalam buku Filsafat Agama karangan Dr. H. Rosjidi diuraikan tentang perbedaan filsafat dan agama, sebab kedua kata tersebut sering dipahami secara keliru.

Filsafat

  1. Filsafat berarti berpikir, jadi yang penting adalah ia dapat berpikir.
  2. Menurut William Temple, filsafat adalah menuntut pengetahuan untuk memahami.
  3. CS Lewis membedakan ‘enjoyment’ dan ‘contemplation’, misalnya laki-laki mencintai perempuan. Rasa cinta disebut ‘enjoyment’, sedangkan memikirkan rasa cintanya disebut ‘contemplation’, yaitu pikiran si pecinta tentang rasa cintanya itu.
  4. Filsafat banyak berhubungan dengan pikiran yang dingin dan tenang.
  5. Filsafat dapat diumpamakan seperti air telaga yang tenang dan jernih dan dapat dilihat dasarnya.
  6. Seorang ahli filsafat, jika berhadapan dengan penganut aliran atau paham lain, biasanya bersikap lunak.
  7. Filsafat, walaupun bersifat tenang dalam pekerjaannya, sering mengeruhkan pikiran pemeluknya.
  8. Ahli filsafat ingin mencari kelemahan dalam tiap-tiap pendirian dan argumen, walaupun argumennya sendiri.

Agama

  1. Agama berarti mengabdikan diri, jadi yang penting adalah hidup secara beragama sesuai dengan aturan-aturan agama itu.
  2. Agama menuntut pengetahuan untuk beribadat yang terutama merupakan hubungan manusia dengan Tuhan.
  3. Agama dapat dikiaskan dengan ‘enjoyment’ atau rasa cinta seseorang, rasa pengabdian (dedication) atau ‘contentment’.
  4. Agama banyak berhubungan dengan hati.
  5. Agama dapat diumpamakan sebagai air sungai yang terjun dari bendungan.
  6. Agama, oleh pemeluk-pemeluknya, akan dipertahankan dengan habis-habisan, sebab mereka telah terikat dan mengabdikan diri.
  7. Agama, di samping memenuhi pemeluknya dengan semangat dan perasaan pengabdian diri, juga memiliki efek yang menenangkan jiwa pemeluknya.

Perbedaan Filsafat dan Agama sangat jelas, filsafat penting dalam mempelajari agama. Demikianlah antara lain perbedaan yang ada dalam filsafat dan agama menurut Dr. H. Rosjidi.
Perbedaan filsafat-agama sebagaimana telah dirumuskan Al-Fârâbî, lagi-lagi, menjadi fokus pemusatan hierarki ilmu dalam pemikirannya. Ketika perbedaan ini diterapkan baik pada dimensi teoretis maupun praktis dari wahyu, seperti dikemukakan sebelumnya, kita akan sampai pada hasil yang menyoroti lebih jauh perlakuan Al-Fârâbî terhadap ilmu-ilmu religius dalam klasifikasinya dikaitkan dengan ilmu-ilmu filosofis. Kalâm dan fiqh, satu-satunya ilmu-ilmu religius yang muncul dalam klasifikasinya, Al-Fârâbî adalah ilmu-ilmu eksternal atau eksoterik dari dimensi-dimensi wahyu secara teoretis dan praktis. Metafisika (al-‘ilm al-ilâhî) dan politik (al-‘ilm al-madanî) berturut-turut merupakan mitra filosofisnya. Penjelasan diatas telah memberikan gambaran perbedaan Filsafat dan Agama. Posted by Jaringan komputer